• Home
  • Traveler
  • Menelusuri Sejarah Kebun Binatang Tertua Sumatera Barat

Menelusuri Sejarah Kebun Binatang Tertua Sumatera Barat

Minggu, 08 Januari 2017 15:59 WIB
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi (Indonesiakaya.com/Ardee).
SUMBAR - Jika Anda sedang berwisata ke Bukittinggi, Sumatera Barat, Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan layak untuk menjadi pilihan utama. Kebun binatang ini menawarkan pengetahuan, nilai sejarah, dan bahkan panorama alam Bukittinggi yang indah dalam satu kawasan.

Ya, itu karena posisinya masih terintegrasi dengan Fort de Kock. Apalagi Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini merupakan salah satu kebun binatang tertua yang ada di Indonesia.

Pendiriannya dimulai pada sekitar 1900 atas ide seorang Controleur pemerintah Hindia Belanda yang bertugas di Fort de Kock (Bukittinggi) bernama Gravenzanden.

Kemudian pada 1933, dilakukan pertukaran koleksi anatar kebun binatang ini dengan kebun binatan Surabaya (Soerabaiasche Planten-en Dierentuin). 

Pertukaran itulah yang membuat kebun binatan Bukittinggi memperoleh sejumlah koleksi spesies fauna Indonesia Timur sedangkan kebun binatang Surabaya memperoleh koleksi spesies fauna asli Sumatera sebanyak 150 ekor.

Di samping itu, kebun binatang ini sempat mengalami masa sulit saat pendudukan Jepang. Ya, tentara Jepang tidak menganggap penting keberadaan kawasan ini sehingga sebagian besar hewan tidak terawat dengan baik, bahkan mati terlantar. 

Sejumlah fasilitas pun sempat dialih fungsi untuk memenuhi kebutuhan militer tentara Jepang.

Seiring era kemerdekaan Tanah Air, kondisi terus berangsur baik, di mana lokasi ini menjadi Taman Puti Bungsu dan kemudian menjadi Taman Marga Satwa Kinantan pada 1995 hingga saat ini.

Sesuai namanya, kawasan ini juga berfungsi sebagai sebuah wahana yang tepat untuk menggali wawasan budaya. Di sini berdiri sebuah bangunan rumah adat Minangkabauyang disebut Rumah Adat Baanjuang. 

Rumah ada yang didirikan sekitar 1935 ini hingga kini difungsikan sebagai sebuah museum yang mengangkat kebudayaan tradisional masyarakat Minangkabau.

Di dalam rumah beratap gonjong gajah maharam ini, dipajang aneka koleksi peninggalan budaya dan sejarah. Diantaranya, pakaian, perhiasan dan alat-alat kesenian khas Minang. 

Selain museum budaya, kompleks ini juga dilengkapi Museum Zoologi, Akuarium Ikan Hias, dan panggung pertunjukan seni bernama 'Medan Nan Bapaneh'.

(otc/otc)
Tags
Komentar