Pengembangan Industri Kelapa Sawit Terhambat Gas di Dumai
Rabu, 24 Juni 2015 15:47 WIB
DUMAI - Pengembangan industri berbasis kelapa sawit di Dumai terkendala karena tidak adanya gas. Akibatnya, produk turunan dari CPO yang bisa dihasilkan baru terbatas sampai minyak goreng dan biodiesel.
Padahal olahan oleochemical dari kelapa sawit bisa menghasilan puluhan macam produk yang punya nilai jual tinggi. Masalah ini dialami puluhan perusahaan pengolahan CPO yang berada di Dumai.
"Perusahaan CPO di Dumai tidak bisa melakukan pengolahan oleochemical lanjutan disebabkan tidak adanya gas tersebut," ungkap Tanmin, GM Wilmar Group di wilayah Kota Dumai, Rabu (24/6/15) kepada wartawan.
Gas alam sangat vital bagi keberlangsungan industri pupuk dan CPO. Gas tidak dipakai untuk bahan bakar, tapi sebagai bahan baku produksi. Proses yang terjadi di oleochemical biasanya terjadi di sebuah reaktor bernama spliting yang berfungsi untuk memisahkan CPO atau CPKO sehingga menjadi fatty acid dan glycerine memerlukan gas.
Sebab, reaksi yang terjadi di dalam spliting adalah reaksi Hidrolisa dengan bantuan air bertekanan 50 bar dan air dengan temperatur 250 derajat celcius.
"Dalam proses produksi oleochemical ini, ketersediaan gas sangat penting. Dan gas ini yang sampai sekarang belum ada di Dumai. Ini masalah industri di Dumai," sebut Tanmin.
Pihak PT Perusahaan Gas Negara selaku BUMN pengelola gas alam, sudah beberapa kali datang ke Dumai melakukan survei dan riset guna menyalurkan gas. Tapi hingga sekarang belum ada realisasinya.
Diakui Tanmin tidaknya ada gas alam ini menyebabkan pengembangan Kawasan Industri Dumai di Pelintung yang dikelola Wilmar Group berjalan lamban. Dibuka semejak tahun 2000, di kawasan tersebut baru beroperasi 11 pabrik yang berbahan baku CPO.
Jadinya, sebagian besar perusahaan CPO di Dumai baru sampai pada tahap pengolahan oleochemical dasar dengan hasil minyak goreng, biodiesel dan produk setengah jadi untuk komestik, pelumas dan bahan industri kertas.
Pahadal, tambahnya, bila oleochemical lanjutan dilakukan, maka beragam produk bisa dihasilkan, seperti metalic soap, fatty alkohol sulfate, fatty alkohol ether sulfate, fatty alkohol sufosuccinate dan lain-lain yang diperlukan bagi industri kosmetik, farmasi, sabun, deterjen dan cat.
Produk kelapa sawit Indonesia tahun 2014 sekitar 30 juta ton. Lebih dari 65 persen produksi kelapa sawit Indonesia diekspor dalam bentuk minyak mentah sawit atau crude palm oil (CPO). Ini berbeda dengan Malaysia, dimana 80 persen produksi diekspor dalam bentuk produk yang bernilai tambah, hasil kreasi industri hilir.
"CPO kita umumnya diekspor dan nilai tambahnya kecil. Padahal jika digunakan untuk industri hilir di dalam negeri, nilai tambahnya bisa lebih besar," jelas Tanmin.
(rdk/adi)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Ekbis
Pergerakan Harga Minyak Sawit Dunia Mengalami Fluktuasi pada Awal Februari 2026
-
Ekbis
Wilmar Peduli, 1.500 Paket Sembako Disalurkan ke Warga Sekitar Industri Dumai-Pelintung
-
Sosial
Idul Adha 2024, Wilmar Group Dumai Salurkan 14 Ekor Hewan Kurban
-
Lingkungan
Minyak CPO Diduga Milik IPB Tumpah ke Laut Dumai
-
Lingkungan
Minyak CPO Milik PT Kreasijaya Adhikarya Tumpah ke Laut Dumai
-
Ekbis
Wilmar Group Dumai Salurkan 1200 Paket Sembako kepada Masyarakat Terdampak Pandemi COVID-19

