• Home
  • Hukrim
  • Annas Maamun Dinilai Masyarakat Pemimpin Otorite

Annas Maamun Dinilai Masyarakat Pemimpin Otorite

Rabu, 01 Oktober 2014 20:31 WIB

PEKANBARU - Masyarakat Riau mengenal Gubernur Annas Maamun, sebagai pemimpin yang otoriter. Watak Annas itu sangat dipahami oleh mereka yang tinggal di Kabupaten Rokan Hilir. 

Sebab, sebelum menjadi Gubernur Riau, Annas Maamun pernah menjabat Bupati Rokan Hilir selama dua periode. Annas disebut kerap bertindak sesuka hati serta sewenang-wenang terhadap bawahan.

"Sejak dari Rokan Hilir dia (Annas Maamun.red) memang sudah otoriter," kata Mulyadi, warga Rokan Hilir, seperti dikutip dari situs Tempo, kemarin. 

Mulyadi adalah mantan Camat Bangko, Rokan Hilir. Ia pernah menjadi korban kesewenang-wenangan Annas Maamun. Ia mendapat ganjaran tidak menerima gaji selama empat tahun akibat membantah permintaan Annas. "Saya dianggap pegawai yang membangkang," katanya.

Kejadian ini berawal saat istri Mulyadi mendaftar sebagai calon anggota legislatif dari salah satu partai. Saat itu Annas meminta Mulyadi membujuk istrinya agar bergabung dengan Partai Golongan Karya. Namun, Mulyadi menolak. "Hak setiap warga negara untuk memilih haluan politiknya," ujarnya.

Karena ditolak, Annas menerbitkan nota dinas untuk menahan gaji Mulyadi. Alasannya, Mulyadi absen ngantor selama 102 hari. "Dia memanipulasi absensi saya. Bahkan, dia pasang target saya diberhentikan," ujar pegawai yang hingga kini belum terima gaji tersebut.

Pengakuan serupa juga disampaikan warga Rokan Hilir lainnya, Faisal Reza. Ia mengaku menjadi korban arogansi Annas Maamun saat pemilihan kepala daerah 2011. 

Alasannya, dia mendukung pasangan bupati lain yang menjadi rival Annas. Akibatnya, semua sanak saudara Faisal yang berstatus PNS dimutasi dan tidak diberi pekerjaan alias nonjob. Sedangkan pegawai yang berstatus honorer justru dipecat oleh Annas Maamun.

"Segala keinginannya harus dituruti. Jika tidak segala urusan keluarga kita akan dipersulit," ujarnya.

Tidak cuma itu, Annas gemar membangun dinasti politik sejak di Rokan Hilir. Ia menempatkan semua sanak saudaranya pada posisi strategis di pemerintahan. "Nepotismenya sangat kuat," ujarnya.

Faisal semakin geram saat Annas Maamun berusaha mematikan usaha rumah makan milik keluarganya karena diketahui keluarga Faisal tidak menjadi pendukung Annas pada pilkada 2011. 

Annas melarang semua pegawai maupun tenaga honorer untuk belanja di warung milik keluarganya tersebut. "Akibat ulahnya, warung Mak Cik saya tutup," katanya. 

Kepala Biro Humas Pemerintah Rokan Hilir Hermanto menanggapi santai tudingan terhadap atasannya itu. Menurut dia, penilaian baik atau buruk masyarakat terhadap pemimpin adalah hal biasa. "Tergantung dari sisi mana masyarakat menilainya," ujar dia.

Menurut Hermanto, sejak pemerintahan Annas Maamun di Rokan Hilir, masyarakat justru sangat merasakan dampak kemajuan di daerah tersebut dan perkembangan pembangunan yang cukup pesat. Misalnya saja pembangunan desa terisolir menjadi maju dan aksesnya semakin mudah ditempuh.

Hermanto mengatakan penilaian miring terhadap Annas Maamun tersebut hanyalah pemikiran orang awam yang kepentingannya tidak terakomodasi. "Dalam pemerintahan tidak semua bisa diakomodir. Dalam hal ini kemudian masyarakat mencari kelemahan dan kesalahan," kata dia.***(red)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Hukrim
Komentar