• Home
  • Hukrim
  • Cinta Segitiga Berujung Kerusuhan Berdarah di Kepulauan Meranti

Cinta Segitiga Berujung Kerusuhan Berdarah di Kepulauan Meranti

Jumat, 26 Agustus 2016 15:46 WIB
MERANTI - Bentrokan di depan Markas Polres Kepulauan Meranti merupakan lanjutan dari peristiwa terbunuhnya seorang polisi, Brigadir Adil S Tambunan (31), dalam perkelahian di parkiran Hotel Furama, Selatpanjang, Kamis dini hari.

Anggota Polri ini ditikam Adi Pratama (24), seorang honorer di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kepulauan Meranti. Brigadir tewas dengan enam tusukan badik di dada. 

Setelah kejadian, Adi melarikan diri ke Desa Mekar Sari, Kecamatan Merbau. Brigadir Adil dan Adi saling kenal. Sebab perkelahian dua sahabat tersebut diduga karena persoalan asmara, karena saat kejadian Brigadir Adil bersama seorang wanita.

Posisi Adi diketahui ketika penyidik Mapolres Kepulauan Meranti selang sejam meninggalnya Brigadir Aidil. Sekitar pukul 03.30, Adi berhasil ditangkap. Menurut Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Asep Iskandar, saat hendak ditangkap, Adi berusaha melawan dengan badik dan melarikan diri.

"Kami terpaksa melumpuhkan tersangka dengan menembak kedua kakinya. Ini adalah langkah terakhir kami agar pelaku tidak melawan dan melarikan diri saat penangkapan berlangsung," kata Asep Iskandar.

Namun, belakangan diketahui Adi juga tewas saat dibawa ke RSUD Kepulauan Meranti. Masyarakat mencurigai, tewasnya Adi merupakan tindakan polisi, rekan-rekan Brigadir Adil, yang main hakim sendiri.

"Saat kami lihat, wajahnya sudah lebam-lebam membengkak dan banyak darah. Saya yakin Adi tewas karena dianiaya polisi. Kalau hanya luka tembak saya tidak yakin Adi tewas,” ujar seorang tokoh masyarakat Selatpanjang, Asman Mahadar.

Kapolres minta tiga hari untuk dilakukan penyelidikan terhadap anggotanya terkait kematian Adi. Tapi penegasan itu tidak membuat hati masyarakat senang. Markas Kepolisian Resor (Polres) Kepulauan Meranti langsung dikepung ribuan warga dari segala arah.

Mereka menuntut kejelasan tewasnya seorang tersangka pembunuhan polisi. Polres Kepulauan Meranti sempat kewalahan karena tidak memiliki cukup banyak personel anti huru-hara. Belakangan Polda Riau mengirim tim gabungan, termasuk Brimob.

Sejumlah orang yang melemparkan batu ke arah personil polisi anti huru-hara. Polisi membalas dengan memukul demonstran menggunakan pentungan karet. Karena kalah jumlah, personil polisi terdesak mundur. 

Massa leluasa menerobos dan masuk ke halaman markas polisi. Dalam situasi yang kacau itu tiba-tiba terdengar letusan senjata api dari arah dalam Markas Polres Kepulauan Meranti, disusul tumbangnya satu orang di antara massa.

Teriakan massa sontak berhenti dan langsung membubarkan diri. Sementara sebagian lainnya membawa Sholah yang tertembak ke RSUD Kepulauan Meranti menggunakan becak motor. Belakangan diketahui, Sholah sudah dalam keadaan meninggal.

Aksi massa semakin mengganas. Mereka kembali melemparkan batu, kayu dan benda keras lainnya ke arah Mapolres Meranti. Dua unit sepeda motor pun jadi sasaran amukan massa. Dua unit motor yang diparkir hangus dibakar oleh massa.

Hingga menjelang senja, aksi massa masih terjadi. Sesekali terdengar letusan senjata api dari arah dalam Mapolres Meranti.

Kronologis Kerusuhan Antara Warga dengan Polisi

Berikut kronologis sampai terjadi kerusuhan di Mapolres Meranti paska peristiwa penikaman personel Polres Meranti Adil Tambunan dan meninggalnya pegawai honorer Dispenda Meranti, Apri Adi Pratama hingga Kamis (25/8/2016) pukul 16.30 WIB.

Pukul 10.30 WIB sekitar 30 orang warga Selat Panjang mendatangi RSUD Meranti Jalan Dorak Selat Panjang bertujuan menanyakan penyebab kematian Apri Adi Pratama.

Kehadiran massa diterima Kapolres Meranti, Ketua LAM Meranti, Anggota DPRD Meranti. Pertemuan dilakukan di aula Meranti.

Dari pertemuan tersebut diceritakan kembali peristiwa pembunuhan Brigadir Adil Tambunan yang dilakukan Apri Adi Pratama pada Kamis (25/8/2016) dini hari di halaman parkir Hotel Furama Selat Panjang.

Warga meminta Kapolres bertanggungjawab atas meninggalnya pelaku penikaman (Apri Adi Pratama).Warga juga meminta mengikutsertakan seluruh aparat penegak hukum lainnya mengawal kasus tersebut.

Dari pihak DPRD juga meminta Kapolres mengusut secara tuntas personel kepolisian yang melakukan penangkapan terhadap Apri.
Kemudian menjelaskan kepada masyarakat atas hasil penyelidikan dari pihak kepolisian.

Pukul 11.00 WIB pertemuan warga dan Kapolres selesai namun tidak ada titik temu antara penjelasan Kapolres dengan tuntutan warga.

Pukul 11.15 WIB sekitar seribuan warga Selat Panjang secara spontanitas mendatangi Mapolres Meranti di Jalan Pembangunan untuk mempertanyakan kejelasan penyebab kematian Apri.

Namun kedatangan massa tidak ditanggapi oleh pihak Mapolres hingga menjadikan warga kesal yang kemudian terjadi pelemparan menggunakan kayu dan batu ke arah Mapolres.

Dari aksi pelemparan tersebut, polisi yang berjaga mengeluarkan tembakan peringatan ke udara. Namun tidak dihiraukan massa.
Kemudian terdengar lagi tembakan yang kemudian satu warga tumbang. Pukul 14.00 WIB, korban meninggal dunia atas nama Isrusli di bawa ke RSUD Meranti.

Pukul 14.30 WIB beberapa warga membubarkan diri dan berkumpul di rumah sakit serta di Mapolres. Pukul 16.30 WIB penjagaan di Mapolres diperketat. Penjagaan dibantu Koramil 02/Tebing Tinggi.

Sumber: Tribunnews.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags
Komentar