Disperindag Dumai Belum Bertindak Soal Pakai Bekas Impor Marak
Selasa, 03 Februari 2015 14:36 WIB
DUMAI - Sebuah pasar khusus penyedia pakaian bekas impor yang rata-rata berasal dari negara Malaysia saat ini terdapat di Kota Dumai. Namanya adalah Pasar Senggol yang merupakan salah satu pasar penyedia pakaian bekas.
Selasa (3/2/15) siang terpantau padat pengunjung mulai dari kalangan remaja hingga dewasa. Sejumlah pelanggan pakaian bekas ini mengaku meminati ragam jenis pakaian karena terkesan elit dan modern serta berkualitas tinggi.
"Harganya juga cenderung lebih murah ketimbang pakaian beli toko," kata Muhammad Nizar, seorang pembeli yang ditemui di sela aktivitasnya memilih pakaian di lantai dua Pasar Senggol Dumai tersebut kepada riauheadlinecom.
Pria ini mengungkapkan dirinya selalu mendatangi pasar itu nyaris setiap dua minggu sekali. "Entah kenapa, kalau sudah beli pakaian di sini (Pasar Senggol) kok jadi ketagihan, mungkin karena disini merknya berkualitas kali," kata dia.
Dilain pihak, seorang pedagang pakaian di Pasar Senggol, Boru Siahaan (43) mengaku, pakaian bekas yang dipajangnya, yakni mulai dari celana jeans, kemeja, kaos oblong, dasi, gorden, jendela, alas meja, kaos kaki, bahkan celana dalam hingga bra didapat dari sejumlah importir di Dumai.
Pakaian bekas berbagai jenis itu ditawarkannya dengan harga bervariasi, tergantung model dan kondisi fisik pakaian tersebut. "Kalau modelnya bagus atau terbaru dan dalam kondisi baik harganya mencapai Rp40 ribu-100 ribu perpotong," katanya.
Sementara jika kondisi pakaian yang ditawar pembeli mengalami cacat seperti terkotori bercak tinta atau cairan yang tidak dapat hilang dengan mudah, maka akan mempengaruhi harganya, sekali pun modelnya bagus atau terbaru.
"Kalau yang cacat, paling kita jual seharga Rp5.000 sampai Rp30.000. Tapi kalau gorden jendela sama alas meja harganya di atas Rp40 ribu, bahkan kalau yang kualitasnya bagus harganya mau jutaan," ujarnya.
Pedagang lainnya di pasar yang sama, Simanjuntak (51), mengatakan, sejak dua minggu terakhir atau seminggu sebelum hingga seminggu memasuki bulan Ramadhan 1432 Hijriah tahun ini jual-beli dirasa semakin meningkat.
"Kalau biasanya pakaian yang laku paling banyak 10 sampai 20 helai, sejak dua minggu ini meningkat jadi 30 helai. Bahkan pada hari Sabtu atau Minggu mau sampai 50 helai pakaian yang laku terjual," kata ibu tiga anak dan dua cucu ini.
Ironisnya dari oret-oretan di atas ini belum ada sama sekali langkah dan tindakan tegas dari aparat terkait baik itu dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Dumai.
Padahal Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersiap untuk menghentikan impor baju bekas. Penghentian tersebut selain sebagai bentuk implementasi dari UU No 7 Tahun 2014. Selain itu juga untuk melindungi konsumen dari penyakit dan bakteri yang terbawa di pakaian-pakaian tersebut.
(adi/adi)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
Keberadaan KPAID Rokan Hulu Dipertanyakan
-
Hukrim
Direktur PT GTC Resmi Tersangka Atas Kasus Penipuan Travel Perjalanan Umroh
-
Hukrim
Demo Ratusan Mahasiswa Turunkan Jokowi-JK Berlangsung Ricuh di DPRD Riau
-
Hukrim
WN Malaysia Ditangkap Polisi Pekanbaru
-
Hukrim
Operasi Simpatik 2015 Libatkan 330 Petugas Gabungan
-
Hukrim
Penyidik KPK Periksa Empat Mantan Anggota DPRD Riau

