• Home
  • Hukrim
  • Mencaruti Wartawan, Annas Maamun Bukan Sosok Kepala Daerah

Mencaruti Wartawan, Annas Maamun Bukan Sosok Kepala Daerah

Sabtu, 19 April 2014 10:58 WIB

DUMAI - Badan Koordinasi HMI Riau-Kepri meminta Gubernur Riau Annas Maamun minta maaf secara terbuka kepada masyarakat Riau dan menyatakan bertobat kepada Allah SWT. 

Apa yang disampaikan Annas Maamun dengan mengucapkan kata kotor ke hadapan awak media telah mencoreng citra Budaya Melayu di Bumi Lancang Kuning ini dan tidak mengambarkan sosok kepala daerah.

Pernyataaan itu disampaikan Wakil sekretaris umum (Wasekum) Badko HMI Riau-Kepri, Tata Haira. Ia mengatakan, selain harus meminta maaf kepada seluruh masyarakat Riau, gubernur juga harus menyatakan diri bertobat kepada Allah SWT, sebagai pemeluk Agama Islam.

"Kalau tidak dilakukan gubernur, berarti masyarakat yang dipimpinnya tidak perlu mencontohnya. Pemimpin itu adalah orang yang menjadi contoh bagi orang yang dipimpinnya, bukan yang zalim dan berkata sesuai nafsunya," ujar Tata Haira.

Melihat fenomena kata kotor yang dilontarkan gubernur kepada awak media membuat masyarakat kecewa dan merasa malu. Apalagi, rekaman dan berita itu beredar luas, sampai ke provinsi tetangga dan ibu kota negara.

"Betapa malunya kita sebagai orang Riau, dimana-mana orang membicarakan prilaku Gubernur, Annas Maamun. Pemberitaan ini pun menjadi pemberitaan nasional. Padahal, kita ini ada di Bumi Melayu yang identik dengan Islam," katanya.

Ia juga mengkhawatirkan jika kata kotor yang dilontar Annas Maamun menjadi trendcenter di berbagai kalangan. Sehingga, kata yang seharusnya tidak layak diperdengarkan itu menjadi biasa diucapkan anak-anak.

"Bagaimana nanti, jika guru melarang anak didiknya berkata kotor, lalu anak itu menjawab, gubernur kita kan mengatakan itu juga. Bagaimana orang tua marah kepada anaknya, jika anaknya suatu saat menjawab Atuk (Annas Maamun) kan mengatakan itu juga," jelasnya. 

"Ini sederhana, tapi penting. Ini etika, ini akhlak, yang sangat janggal jika gubernur tidak tahu itu," katanya.

Dijelaskannya Tata, tuntutan HMI agar gubernur meminta maaf secara terbuka karena telah bersalah kepada seluruh masyarakat Riau. Tuntutan agar gubernur bertobat, sebab ia menganut Agama Islam, dimana berkata-kata kotor dilarang dalam Islam.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa perlu dilakukan riset terhadap kejiwaan Annas Maamun. Prilaku berkata kotor ke media sehingga menjadi sorotan publik di berbagai daerah.

"Kan harus ada juga ilmiahnya, apakah faktor utamanya karena sudah kembali ke prilaku anak-anak atau karena kebiasaan saja. Apapun jawabannya, yang jelas perlu jawaban dari sebuat penelitian kejiwaan gubernur itu," katanya. (*)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Hukrim
Komentar