Tragis, Pecandu Indonesia Butuh Ratusan Butir Narkoba Pertahun
Jumat, 01 Mei 2015 07:14 WIB
JAKARTA - Indonesia darurat narkoba. Hal tersebut yang terus diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo menanggapi berbagai badai protes dari dunia Internasional ketika eksekusi terpidana mati akan dilakukan. Rupanya bukan tanpa bukti presiden mengeluarkan pernyataan tersebut.
Indonesia memang tengah mengalami krisis. Ratusan orang meninggal setiap harinya akibat kelebihan dosis. Tak sedikit pula yang ketahuan menggunakan obat-obatan terlarang.
Berdasarkan data yang diterima dari Badan Narkotika Nasional (BNN), pecandu narkoba di Indonesia dari usia anak-anak hingga dewasa, yakni sekitar 10 hingga 59 tahun.
Kementerian Luar Negeri Indonesia menjelaskan, ratusan juta butir narkoba diperlukan untuk 'memenuhi' keinginan para pecandu. Kalau boleh dibandingkan, para pecandu menginginkan zat psikotropika itu hampir sama dengan mereka menginginkan beras yang nantinya jadi kebutuhan pokok mereka.
"Indonesia 'butuh' stok ganja sebanyak 158 juta gram, sabu sebanyak 219 juta gram, serta 14 juta butir pil ekstasi per tahun. Itu untuk memenuhi jumlah para pecandu di Indonesia yang mencapai empat juta jiwa," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir, di kantor Kementerian Luar Negeri, Kamis (30/4).
Tata, panggilan akrabnya menambahkan, tak peduli umur dan dari kalangan mana, para pecandu yang sudah terkontaminasi narkoba akan mencari barang haram tersebut hingga mendapatkannya.
Ibu Kota Jakarta sendiri merupakan tempat ketiga terbesar pengguna narkotika di Indonesia. Data dari BNN per Agustus 2014, sebanyak 491.848 jiwa merupakan pecandu narkotika, di atasnya ada Jawa Barat sebagai urutan pertama dan Jawa Timur. Masing-masing memiliki jumlah pengguna sebanyak 804.635 jiwa dan 543.782 jiwa.
Laki-laki masih yang paling dominan dalam penggunaan narkoba, yaitu sebanyak 4.385 jiwa. Sementara perempuan pengkonsumsi obatan terlarang sebanyak 292 jiwa.
Ekstasi merupakan barang yang paling banyak dicari oleh para pecandu tersebut, tiap tahunnya dibutuhkan 72.657 butir ekstasi untuk tiap daerah. Tinggal dihitung saja berapa banyak wilayah di Indonesia, sudah tak terbilang lagi jumlah narkoba yang dipasok oleh para produsen.
Para produsen pun tak kalah banyaknya, bisa mencapai ribuan orang. Dari data SMSLap dan SDP Ditjenpas per 12 Agustus 2014, jumlah produsen narkoba yang berhasil ditangkap BNN mencapai 952 orang, kurang lebih 1,91 persen dari jumlah narapidana di lapas yang terkait kasus narkoba.
Sedangkan jumlah tahanan narkoba, yang berarti jumlah pengguna obat-obatan haram itu sekitar 20.137 orang atau sebanyak 42,85 persen. Angka yang fantastis.
Itu sebabnya mengapa Presiden Joko Widodo berkeras untuk mengeksekusi mati para terpidana narkoba, agar tidak semakin banyak generasi muda yang rusak gara-gara obat-obatan tersebut.
Data dari kepolisian Polda Metro Jaya DKI Jakarta, setiap pekan para petugas kepolisian menyisir berbagai tempat di Indonesia dan selalu menemukan barang haram itu ada di sana.
Para pengguna narkoba tidak akan ditahan seperti pelaku kejahatan lain, namun akan direhabilitasi oleh negara hingga dinyatakan benar-benar sembuh.
(rdk/mdk)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
F1QR Lanal Dumai Gagalkan Penyelundupan Sabu 5,404 KG dari Malaysia
-
Hukrim
KPPBC Dumai Amankan Tersangka dan 19.516 Butir Ekstasi dari Malaysia
-
Hukrim
Inilah Fakta Anak Lilis Karlina yang Masih Kecil Jadi Bandar Narkoba
-
Hukrim
BNN Tangkap Oknum Polisi dan Warga Sipil Bawa 50 Kilogram Narkoba di Dumai
-
Bengkalis
Bupati Bengkalis Buka Seminar Kebangsaan Peringatan Hari Anti Narkoba
-
Hukrim
Kapolda Riau Minta Jajaran Tindak Tegas Bandar Narkoba

