• Home
  • Lingkungan
  • Akibat Tercemar Limbah, Tangkapan Ikan Nelayan di Meranti Menurun

Akibat Tercemar Limbah, Tangkapan Ikan Nelayan di Meranti Menurun

Senin, 10 Februari 2014 15:12 WIB

SELATPANJANG - Dampak limbah jenis TAR yang mencemari laut Rangsang, mengakibatkan tangkapam ikan pada nelayan menjadi menurun. Meskipun  masih tetap membawa pulang ikan, namun jumlahnya sangat sedikit. 

Selain itu, ikan-ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi juga sulit ditemukan. Hal ini membuat para nelayan pusing tujuh keliling.

Darwis  salah seorang nelayan Rangsang mengaku hasil tangakapannya menurun drastic. Kalau biasanya dalam satu air mampu membawa pulang ikan 10-20 kg, sekarang hanya mampu membawa ikan naik ke pantai 3-7 kg. 

Dan jenis ikan yang di bawa pulang, rata-rata merupakan ikan-ikan jenis campuran. Sedangkan ikan jenis senangin, bawal maupun tenggiri tak ditemukan. 
"Entah kemana lari ikan-ikan ini. Yang jelas, sejak tercemarnya perairan laut Rangsang, hasil tangkapan kami menurun. Hal ini jelas, sangat merugikan kami para nelayan” ungkap Darwis yang turut dibenarkan Rahman, Jamaluddin maupun Isnen, Minggu (9/2).

Sementara itu Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kepulauan Meranti, Riau, Irmansyah, menegaskan berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan di Energi Mega Persada (EMP) Malacca Strait SA, limbah yang mencemari laut Rangsang tepatnya di Desa Sungai Gayung Kiri berjenis TAR.

"TAR merupakan salah satu jenis limbah B3. Namun, TAR tidak tergolong membahayakan dan masih bisa dimanfaatkan. Namun, kalau sebaranya  meluas dengan volume tinggi, tetap bisa mengancam kelestarian ekosistem. Terutama bagi berbagai jenis biota laut yang resisten akan pencemaran limbah," katanya.

Adanya dugaan awal bahwa limbah yang berserak diperairan Rangsang sebagai LB3 bekas pencucian kapal tanker, dibantah Yonari  Kabid Analissi Amdal BLH Merranti. Dari hasil uji labor,  tidak ditemukan  adanya kandungan besi di dalam limbah berwarna hitam itu. "Kalau bekas pencucian tanker di dalamnya pasti ada kandungan besi, ini tidak ada," ujar Yonari pula.

Meski itu hanya TAR  lanjut Yonari, Pemkab Meranti berharap agar  Pemprov Riau bisa membantu mengatasinya. Sebab di Kepulauan Meranti sendiri masih memiliki keterbatasan fasilitas pengendalian pencemaran limbah. 

"Kalau tidak segera ditangani, dihawatirkan akan turut merusak erkosistem pantai, mangrove bisa mati. Untuk itu, kits sudah mengirimkan surat ke Pemprof Riua untuk minta bantuan penanganan limbah TAR ini” beber Yonari.

Menyinggung kondisi terahir sebaran limbah TAR,  Yonari mengatakan, saat ini TAR itu sudah memasuki perairan Tanjung Kedabu, Kecamatan Rangsang Pesisir. “Kita himbau agar nelaytan tidak melakukan penangkapan disekitar sebaran limbah TAR," pungkasnya.***(hkc/fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Lingkungan
Komentar