• Home
  • Lingkungan
  • Dampak Kabut Asap Karhutla Terjadi 601 Kasus ISPA di Meranti

Dampak Kabut Asap Karhutla Terjadi 601 Kasus ISPA di Meranti

Rabu, 26 Februari 2014 12:03 WIB

SELATPANJANG - Ganguan Infeksi saluran pernapasan (Ispa) di Kabupaten Meranti terjadi peningkatan. Selama bulan Februari 2014 ini, sudah terjadi sekitar 601 kasus dialami masyarakat. 

Hal ini disebabkan cuaca yang ekstrim serta  diperburuk dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan diberbagai tempat. Dari sembilan puskesmas yang tersebar di setiap kecamatan di Kabupaten Kepulauan Meranti, rata-rata ditemukan kasus gangguan ISPA. 

Kondisi ini tentunya menjadi bukti kuat, dampak kebakaran lahan yang menghasilkan asap dan debu-debu sisa kebakaran hutan dan lahan di Meranti menyebabkan buruknya kualitas udara.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepulauan Meranti, dr Irwan Suandi melalui Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan Lingkungan dan Penyakit Menular Dinkes Meranti dr Ria mengatakan, sepanjang Februari 2014 kasus gangguan Ispa terjadi di seluruh puskesmas di Meranti. 

Berdasarkan data ahir yang diterima dari masing-masing Puskesmas, dari tanggal 7 Februari sampai 24 Februari 2014 tercatat terjadi 601 kasus gangguan ISPA.

“Kasus gangguan ISPA terbesar terjadi di Puskesmas Selatpanjang, ada 216 kasus. Sedangkan di puskesmas-puskesmas lainnya, rata-rata terjadi diatas 30 kasus sampai 70 kasus. Peningkatan gangguan ISPA ini secara medis, disebabkan buruknya kualitas udara,” ujar dr  Ria.

Menurutnya, Ispa termasuk dalam lima kasus penyakit terbanyak dan terus mendapatkan perhatian serius dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti. 

Lima kasus tersebut diantaranya asma, iritasi kulit, mata dan pneumonia (radang paru-paru) dan Ispa. Khusus untuk kasus Ispa, hampir setiap tahun terjadi peningkatan kasus. Untuk tahun 2013, berdasarkan data laporan yang masuk dari Puskesmas yang tersebar di berbagai Kecamatan terjadi 25.345 kasus Ispa yang terjadi. 

Untuk kasus gangguan Ispa golongan usia 5 tahun keatas, kasus yang terjadi cukup dominan tercatat 15. 976 kasus. Sedangkan kasus gangguan Ispa untuk kelompok umur 0 sampai 4 tahun, tercatat terjadi 9.369 kasus. 

"Ada banyak factor yang menyebabkan Ispa ini begitu cepat menyebar kasusunya. Namun, penyebab yang paling cepat adalah memburuknya kualitas udara akibat karhutla," jelasnya. 

Untuk itu, langkah yang paling tepat adalah dengan berupaya melakukan pencegahan untuk tidak keluar rumah bia kondisi kabut asap tebal. Agar tidak sampai parah, upaya pengobatan harus segera dilakukan. 

"Tim medis kita selalu siap di lapangan (Puskesmas red) untuk memberikan pelayanan pengobatan gangguan ISPA ini. Intinya, masyarakat harus proaaktif untuk ke Puskesmas, berobat, ” bebernya.

Terkait upaya penanggulangan, dr Ria mengatakan saat ini Diskes Meranti telah menyiapkan tim gerak cepat khusus untuk menyiasati kasus ISPA ini. 

Melalui petugas-petugas medis yang tersebar di Puskesmas, bidan desa dan temaga medis lainnya, Diskes Meranti secara rutin melakukan penyuluhan terkait upaya pencegahan dan penanggulangan ISPA. 

"Melalui kegiatan sosialisasi ini, Alhamdulillah masyarakat cukup koperatif. Berbagai kasus gangguan ISPA yang ditangani di Puskesmas, semua bisa terlaksana dengan baik," tandas dr. Ria.

Ditempat terpisah Kepala Puskesmas Kedaburapar drg. Alam Piliang mengatakan sampai hari ini, Selasa (25/2), terjadi 52 kasus gangguan ISPA. Dari kasus-kasus ISPA tersebut, semuanya sudah ditangani sesuai dengan standar medis. 

Dan upaya penangulangan, pihak Puskesmas Kedaburapat juga terus berupaya melakukan sosialisasi terkait upaya efektif mencegah gangguan ISPA tersebut. 

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mensosialisasikan pemakian masker. Soalnya, ISPA ini tidak hanya terjadi akibat kebakaran, tapi juga bisa terjadi karena debu-debu jalanan.***(hkc/fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Lingkungan
Komentar