- Home
- Lingkungan
- Petani Meranti Dambakan Pasar Lelang Agro
Petani Meranti Dambakan Pasar Lelang Agro
Rabu, 25 September 2013 19:59 WIB
ilustrasi
SELATPANJANG, RIAUHEADLINE.COM- Empat tahun terbentukknya Kabupaten Kepulauan Meranti, namun hingga saat ini para petani masih belum bisa menikmati kesejahteraan karena harga-harga komoditi hasil pertanian yang dikuasai oleh tokeh-tokeh sebagai penampung produk pertanian petani tersebut. Penguasaan pasar ini membuat harga jual tidak lagi ideal sesuai dengan harga pasar dunia.
Seperti yang diungkapkan oleh salah satu petani karet Desa Kondur, Hari Eko (42) kepada media Rabu (25/9) kemarin, bahwa saat ini petani karet hanya bisa menjualkan karetnya kepada tokeh-tokeh penampung, yang masyarakat lebih sering mendengar harga karet turun ketimbang harga karet naik.
“Dari dulu kita petani berharap harga jual itu bisa sesuai dengan harga pasar dunia, namun hingga saat ini kita belum bisa menikmati hal tersebut. Kita berharap harga pasar tak lagi dikuasai oleh para tokeh, namun bisa diatur melalui sebuah produk hukum sehingga harga hasil pertanian bisa disesuaikan dengan harga pasar dunia, paling tidak kami tidak diakali-akali oleh tokeh,” sebut Eko.
Menurut Eko, ia sudah pernah mengusulkan agar di Meranti dibentuk Pasar Lelang Agro. Memang Pemkab Kepulauan Meranti, melalui dinas terkait mendukung terbentuknya pasar lelang tersebut. “Pemkab Meranti hanya memberikan dukungan hanya dibibir saja, namun realisasi saat ini belum pernah terwujud. Padahal kita berharap dinas terkait memberikan fasilitasi agar pasar lelang bisa segera terbetuk.
Hal senada juga disampaikan oleh petani kopi dan pinang di Sempian Desa Kedaburapat, Beduace (45). Ia juga berharap bisa menjualkan komoditas pertaniannya langsung ke pasar, sehingga ia bisa mendapatkan keuntungan yang lebih. “Mau kita jual langsung ke pasar itu tidak mungkin, karena kita tidak tau pasarnya dimasa dan dijual sama siapa. Kita hanya tau menjual kepada penampung. Kalau memang ada pasar khusus menjual hasil produk tani mungkin, pendapatan kita lebih baik,” ujar Beduace.
Sementara itu, Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Asnawi Nazar, S.Pi, mengakui bahwa benar saat ini harga dari produksi pekebunan petani di Meranti masih ditentukan oleh para tokeh penampungan. “Tak ada cara lain untuk mengatasi masalah ini, pasar lelang agro memang harus segera dibentuk, jika kita ingin meningkatkan kesejahteraan petani. Paling tidak harus ada koperasi khusus yang bisa mengatur harga menjadi ideal sesuai degan harga dunia,” tutur Asnawi.
Asnawi melanjutkan, ini juga sebenarnya menjadi PR atau pekerjaan bagi KTNA Kabupaten Kepulauan Meranti. “Pembentukan Pasar Lelang Agro sebenarnya menjadi tugas kami juga, agar apa yang didambakan oleh petani segera terwujud. Namun ini juga dibutuhkan dukungan nyata dari pihak pemerintah dan dukungan dari lembaga-lembaga terkait lainnya. Adanya kerjasama yang baik untuk menggagas terbentuknya Pasar Lelang Agro,” tandas Asnawi.***(fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar
-
Politik
DPRD Pekanbaru Desak Prioritas Drainase 2026

