• Home
  • Maritim
  • ICMI Rohil Akan Gelar Pelatihan Ternak Lele Bioflok

ICMI Rohil Akan Gelar Pelatihan Ternak Lele Bioflok

Senin, 10 Juli 2017 19:18 WIB
ROKAN HILIR - Devisi kewirausahan dan Perekonomian Organisasi Daerah Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (Orda ICMI) Rokan Hilir (Rohil) bekerja sama dengan Bioplok Hijrah Comunity Riau akan mengadakan pelatihan ternak lele secara bioploc.

Acara tersebut, akan diadakan di kafe Rai And Friend's Coffee lantai dua Jalan Sei Buaya Baganbatu Kecamatan Bagan Sinembah, 22 Juli 2017 ini pukul 08.00 wib dengan menghadirkan ?Narasumber Heptiyalis S Sos selaku selaku Ketua Biopoloc Hijrah Comunity Riau.

Ketua Orda ICMI Rohil dr Suratmin, mengatakan, Bioploc merupakan sebuah sistem budidaya ikan lele melalui proses penumbuhan dan pengembangan mikro organisme.

Proses ini dilakukan dengan cara mengolah limbah hasil budidaya menjadi gumpalan kecil sebagai makanan ikan secara alami.

"Kolam yang dibutuhkan tidak terlalu besar, menggunakan kolam yang terbuat dari terpal berbentuk bulat. Kolam tersebut berdiameter tiga meter, dengan kedalaman sekitar 1,5 meter," terangnya, dilansir dari inforohilcom, kemarin.

Suratmin menambahkan, pemeliharaan lele dengan sistem ini menggunakan pakan alami. Karena dengan bioflok, limbah budidaya dijadikan pakan alami dengan menambahkan probiotik.

Probiotik inilah yang akan mengurai sisa-sisa pakan menjadi ?ok atau gumpalan-gumpalan berisi mikroorganisme (bakteri, jamur, algae, protozoa, cacing) yang bisa digunakan untuk makanan ikan itu kembali dan angka kematian yg sangat minin maksimal 10% dari lele yg di tebar.

"Keunggulan dari teknologi ini adalah hemat, hemat tempat dan lahan. Karena di lahan yang  super sempit petani atau pelaku peternakan  bisa memproduksi. Tidak hanya lokasi keberadaan kolamnya pun bisa ditaruh di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Ini teknologi yang super hemat baik dari lahan maupun biaya,” ujarnya.

Selain hemat lokasi lanjutnya, teknologi ini juga hemat air. Memelihara ikan menggunakan sistem ini tidak butuh air yang banyak setiap hari. Karena di dalam sistem bioflok ini justru tidak boleh terlalu banyak membuang air. Sebab dalam air kolam tersebut sudah ada nutrisi yang diciptakan sendiri dari kotoran yang dihasilkan.

Selain hemat lahan, air dan juga hemat waktu, karena bisa produksi kapan saja, dimana biasanya kalau petani ikan panennya terbatas hanya pada musim hujan saja, tetapi menggunaan produksi ini bisa panen kapan saja, dan tingkat produksinya bisa lebih tinggi berkali lipat, misalnya dalam kalam bioflock dengan diameter 1.5 meter bisa menampung ikan sampai 2500 dengan ukuran ikan Lele sekita 6 cm.

"Tidak hanya lele. Teknologi ini juga cocok untuk  ikan jenis Nila, Gurami  lainnya. Tetapi kalau  petani belum mahir bisa menebar  1000 bibit," ungkap pria yang juga Ketua IDI Rohil ini.

Suratmin memaparkan, jika dibandingkan dengan kolam biasa kolam dengan diameter 1.5 meter ini paling hanya bisa menampung  tidak lebih dari 1000 bibit. Kenapa hal ini bisa terjadi karna dalam pengembangan bioflock  bisa karena ada blower sebagai bisol aksigen yang dihasilkan dari  blower tersebut.

Keunggulan dari  teknologi ini juga lebih higienis karena tidak ada kontaminasi lumpur. Sehingga ikan atau lele yang dihasilkan jauh dari adanya bau amis atau lumpur saat dikonsumsi karena  hasil produksi bersih dari lumpur.

(rac/rac)
Tags
Komentar