• Home
  • Nasional
  • Fakta Obat Virus Corona Dijual Kalbe Farma, Termasuk Harga Rp3 Juta

Fakta Obat Virus Corona Dijual Kalbe Farma, Termasuk Harga Rp3 Juta

Hadi Pramono Jumat, 02 Oktober 2020 09:33 WIB
JAKARTA - Obat antivirus Gilead Sciences Inc, remdesivir diklaim efektif mencegah penyakit paru-paru pada monyet atau kera yang terinfeksi dengan virus corona. Hasil penelitian itu diterbitkan dalam jurnal Nature pada hari Selasa.

Temuan ini pertama kali dilaporkan pada bulan April oleh National Institutes of Health (NIH) AS sebagai 'cetakan awal' sebelum validasi akademik tradisional yang disediakan oleh jurnal medis.

Dilansir Reuters, remdesivir adalah obat pertama yang terbukti efektif melawan Covid-19 dalam uji coba pada manusia. Studi klinis lain yang melibatkan obat ini diawasi dengan ketat ketika negara-negara mencari pengobatan untuk penyakit yang telah menginfeksi lebih dari 7 juta orang dan membunuh lebih dari 400.000 orang di seluruh dunia.

Remdesivir disetujui bulan lalu di Jepang dengan merek Veklury. Telah diizinkan untuk penggunaan darurat pada pasien yang sakit parah di Amerika Serikat, India dan Korea Selatan. Beberapa negara Eropa juga menggunakannya di bawah program yang penuh pengawasan.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada hari Selasa, 12 monyet terinfeksi dengan virus corona, dan setengah dari mereka diberi pengobatan dini dengan remdesivir.

Kera yang menerima remdesivir tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit pernapasan dan telah mengurangi kerusakan pada paru-paru. Penulis penelitian ini juga mengatakan viral load, atau jumlah virus, di paru-paru hewan yang diobati dengan remdesivir lebih rendah.

Para penulis menyarankan bahwa remdesivir harus dipertimbangkan sebagai pengobatan sedini mungkin untuk mencegah pengembangan menjadi pneumonia pada pasien Covid-19.

Dalam uji coba klinis yang dijalankan Amerika yang dirilis pada akhir April, remdesivir mengurangi rawat inap hingga 31 persen, atau sekitar empat hari, dibandingkan dengan plasebo.

Gilead pekan lalu melaporkan data dari uji coba remdesivir sendiri, menunjukkan bahwa obat tersebut memberikan manfaat sederhana bagi pasien dengan Covid-19 sedang yang diberikan pengobatan selama lima hari.

Kini, obat jenis redemsivir telah dijual di Tanah Air. Perusahaan Kalbe Farma dipercaya untuk mengimpor obat tersebut. Berikut fakta soal redemsivir yang dijual Kalbe Farma:

Dipasarkan di Indonesia dengan Merek Covifor
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) atau Kalbe akan mulai memasarkan obat terapi pasien Covid-19 berjenis remdesivir generik di Indonesia, dengan merek Covifor mulai hari ini, Kamis (1/10). Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh President Director Kalbe Farma, Vidjongtius.

"Mulai hari ini barang sudah siap. Remdesivir sudah siap di distribusikan ke seluruh provinsi di Indonesia," ujar dia dalam Press Conference Peluncuran Obat Antivirus Covifor (Remdesivir) di Jakarta, Kamis (1/10).

Vidjongtius menjelaskan, Covifor merupakan produk obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi multinasional asal India, Hetero. Sehingga Kalbe bertindak sebagai distributor bersama PT Amarox Pharma Global sebagai anak perusahaan Hetero.

"Kami lebih sebagai distributor, di mana telah menjalin kerja sama pemasaran dengan PT Amarox Pharma Global selaku anak perusahaan (Hetero)," jelas dia.

Vidjongtius memastikan Covifor telah mendapat persetujuan izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dengan ketentuan persetujuan emergency use authorization (EUA) dari BPOM.

"Untuk itu, obat ini didistribusikan oleh jaringan kami langsung ke rumah sakit. Sehingga tidak diizinkan untuk diperjual belikan di apotik," tegasnya.

Harga Rp3 Juta per Dosis
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) resmi memasarkan obat terapi pasien Covid-19 berjenis remdesivir generik di Indonesia, dengan merek Covifor mulai awal Oktober ini. Harga jual Covivor saat ini dipatok Rp3 juta per dosis.

"Covifor siap dipasarkan mulai hari ini ke seluruh provinsi di Indonesia. Untuk harganya adalah Rp3 juta per dosis," ujar President Director Kalbe, Vidjongtius, dalam dalam Press Conference Peluncuran Obat Antivirus Covivor (Remdesivir) di Jakarta, Kamis (1/10).

Kendati demikian, Vidjongtius menyebut jika harga jual Covifor bisa berubah sewaktu-waktu. Hal ini mempertimbangkan adanya ketentuan peningkatan volume permintaan akan obat penawar virus jahat asal China itu.

"Tapi untuk harga masih bisa (berubah) tergantung volume. Sehingga bisa ditinjau kembali (harganya)," paparnya.

Selain itu, Bos Kalbe ini juga memastikan bahwa tidak ada batasan kuota Covifor untuk Indonesia. Mengingat kemampuan produksi Hetero selaku produsen dalam memenuhi permintaan pasar global.

"Untuk kesediaan obat, supply tidak ada batasnya. Akan disesuai kebutuhan Indonesia. Karena kapasitas produksi Hetero besar," imbuh dia.

Country Manager of PT Amarox Pharma Global, Sandeep Sur mengatakan, bahwa di India, Hetero adalah perusahaan pertama yang meluncurkan Remdesivir generik dan telah memasok sekitar 800.000 dosis obat untuk lebih dari 100.000 pasien di berbagai negara.

Kemudian, perusahaan juga telah memasok Remdesivir ke Asia, Afrika, dan beberapa Negara Amerika Latin serta Commonwealth of Independent States (CIS), sebagaimana tercakup dalam perjanjian lisensi dengan Gilead.

"Remdesivir terbukti mengubah peta pengobatan melawan Covid-19, mengingat hasil klinis Redesivir positif dalam hal keamanan dan memiliki efek yang baik dalam pengobatan Covid-19," tuturnya.

Masih Jarang Tersedia
Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit (RS) Persahabatan, Dr. Erlina Burhan menyambut baik kehadiran obat terapi pasien Covid-19 berjenis remdesivir generik itu. Terlebih remdesivir telah dinyatakan aman oleh badan kesehatan dunia atau WHO untuk pengobatan pasien Covid-19.

"Saya menyambut gembira. Karena sudah masuk standar aman oleh WHO. Tapi ketersediaannya masih jarang," ujar dia dalam dalam Press Conference Peluncuran Obat Antivirus Covivor (Remdesivir) di Jakarta, Kamis (1/10).

Erlina mengatakan, cara kerja remdesivir efektif untuk menghambat replikasi virus Covid-19 di dalam tubuh manusia. Sehingga mencegah kerusakan organ tubuh lebih lanjut.

"Cara kerjanya adalah remdesivir ini menghambat replikasi virus. Jadi mudah-mudahan kalau masuk remdesivir, replikasi virus ini akan dihambat. Sehingga tidak terjadi keparahan yang lebih lanjut. Kemudian sistem imun kita akan bisa mengendalikannya," jelas dia.

Impor Obat Pakai Modal Kerja Kalbe Farma
President Director of Kalbe Farma Vidjongtius memastikan keputusan mendatangkan obat impor penawar Covid-19 bukan bagian dari investasi. Menurutnya, keputusan pengadaan Covifor sebagai bentuk modal kerja.

"Jadi, pada dasarnya tidak ada investasi yang kami lakukan. Tapi, lebih kepada persiapan modal kerja untuk pengadaan barang tersebut dan kita distribusikan ke seluruh Indonesia," tegas dia dalam Press Conference Peluncuran Obat Antivirus Covivor (Remdesivir) di Jakarta, Kamis (1/10).

Terlebih, sambung Vidjongtius, perusahaan sampai saat ini belum menyiapkan alokasi dana investasi untuk penyediaan obat penawar Covid-19 itu. Sebab, Covifor merupakan produk obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi multinasional asal India, Hetero.

"Ini lebih kepada modal kerja sebenarnya. Karena tidak ada proses produksi di tempat Kalbe, tapi lebih kepada pemasaran dan distribusi," tambahnya.

Sebagai informasi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah memberikan izin edar obat covid-19 yang di distribusikan oleh Kalbe tersebut. Khususnya untuk emergency use authorization (EUA) atau penggunaan darurat medis.

Ketentuannya, digunakan pada pasien positif Covid-19 berusia 12 tahun ke atas, berat badan 40 kilogram (kg) ke atas, dan pasien bergejala berat yang sedang melakukan perawatan di rumah sakit.

(Sumber: merdeka.com)
Tags CoronaCovid-19Covid 19Covid19Kalbe FarmaObatVirus Corona
Komentar