• Home
  • Opini
  • Makna dan Hakikat Hari Raya Idul Adha

Makna dan Hakikat Hari Raya Idul Adha

Senin, 29 Agustus 2016 13:06 WIB
IDUL ADHA merupakan salah satu hari raya besar bagi umat Islam yang dirayakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah setiap tahun. Ada banyak makna penting yang dapat dipetik dari perayaan hari raya yang juga kerap disebut sebagai hari raya Qurban ini.

Sebelum mencari tahu makna dan hakikat Idul Adha, perlu diketahui sejarahnya terlebih dulu. Secara singkat, Idul Adha berawal dari masa Nabi Ibrahim. 

Suatu saat beliau memanggil putranya, Ismail, yang berumur tujuh tahun untuk berbincang. Nabi Ibrahim kemudian menceritakan bahwa dirinya mendapat perintah dari Allah melalui mimpi untuk menyembelih Ismail. 

Nabi Ibrahim kemudian menanyakan pendapat Ismail tentang hal tersebut. Dengan ikhlas, Ismail yang masih kecil menerima untuk disembelih karena itu merupakan perintah Allah. Dia merasa harus mematuhi segala titah Allah.

Akhirnya Ismail pun hendak disembelih oleh Nabi Ibrahim. Namun, Allah menggantinya dengan seekor domba. Sejak saat itulah, tradisi Qurban muncul yang ditandai dengan pengorbanan hewan.

Jika diperhatikan, kisah tersebut jauh dari logika. Nabi Ibrahim mau saja menyembelih Ismail yang merupakan buah hatinya. Sedangkan, Ismail begitu ikhlas berlapang dada menerima untuk disembelih.

Akan tetapi, untuk memaknai Idul Adha memang tidak selalu bisa menggunakan logika. Menurut  pencetus aktualisasi syariat, Lismanto, hari raya ini seharusnya dilihat dari dua dimensi yang berbeda, yakni dimensi ibadah spiritual serta dimensi horizontal. 

Dimensi ibadah spiritual terekam jelas dari tradisi Qurban. Di sana tergambar ketaatan hamba kepada Allah. Nabi Ibrahim dan Ismail dengan penuh keikhlasan mau menjalankan perintah Allah meski terasa berat sekalipun. Hal itu dilakukan demi kedekatan dengan Allah.

Makna lain yang menyertainya ialah rasa ikhlas ketika tengah menerima cobaan. Diibaratkan, kita sebagai hamba mesti bertawakal saat sedang “disembelih” Allah. Berkat itu, manusia akan bisa menerima “domba” sebagai penggantinya.

Sementara itu, terkait dimensi horizontal yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia, Idul Adha terlihat jelas memberikan kesejahteraan kepada lingkungan. Wujudnya ialah pembagian daging kepada khalayak. 

Hal tersebut mengandung simbolisasi yang penting karena daging merupakan makanan mewah yang sulit dijangkau oleh pihak yang berkekurangan. Namun, bekat Qurban, mereka bisa merasakannya. 

Oleh karena itu, umat muslim diajari untuk mau menyisihkan hartanya untuk melakukan Qurban sebagai bentuk kegiatan sosial. 

Dari dua dimensi berbeda dalam Idul Adha itu, Allah sebenarnya mengajak hamba-Nya untuk selalu mengharmonisasikan ibadahsecara vertikal dan horizontal. Keduanya seharusnya senantiasa beriringan tanpa ada sekat.

Alhasil, Idul Adha hakikatnya ialah kembali ke tujuah hidup sebagai manusia yang tidak lain ialah beribadah kepada Allah. Peristiwa Qurban mengajarkan kepada kita agar selalu ikhlas menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Tanpa keikhlasan dan ketakwaan, semua ibadah yang dilakukan bisa menjadi sia-sia belaka.

Sumber: Internet 
Tags
Komentar