• Home
  • Politik
  • Golput Bagai Kabut Asap, Cenderung Meningkat

Golput Bagai Kabut Asap, Cenderung Meningkat

Senin, 17 Maret 2014 13:54 WIB

PEKANBARU - Golongan putih (Golput) atau orang yang tak menggunakan hak politiknya dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) maupun Pemilihan Presiden (Pilpres) diibaratkan sebagai kabut asap. Keberadaan sudah cukup lama tetapi tidak ada upaya untuk menanganinya secara serius.

Hal itu terungkap dalam diskusi pemimpin redaksi media massa yang berlangsung di aula kantor Harian Vokal, Senin (17/3/14). Dalam diskusi politik bertemakan "Peran Media Massa Mencegah Golput" itu menghadirkan pembicara anggota KPU Riau dan Ilham, pengamat politik Maxsasai Indra serta dimediatori Ketua SPS Riau, Syafriadi.

Sementara dari kalangan Pemred media massa hadir Dody Sarjana (Pemred Tribun Pekanbaru), Nazir Fahmi (Pemred Riau Pos), Ahmad Rodhi (Pemred Metro Riau) dan Zulfa Irwan, Pemred Harian Vokal serta beberapa redaktur media massa lainnya.

Dody Sarjana berpendapat, masalah golput ini ibarat kabut asap. Sudah setiap tahun ada dan cenderung angkanya meningkat, tetapi tidak ada upaya untuk menanganinya atau mengantisipasi jangan terjadi lagi.

"Memang golput dilandasi kesadaran oleh pemilihnya. Tetapi seolah kita membiarkan ini begitu lama," kata Dody.

Ditambahkannya, dari sisi media massa, mengajak masyarakat untuk tidak Golput tidak semudah pencitraan. Yang terlibat banyak itu memang penyelanggara Pemilu seperti KPU, parpol dan caleg.

"Kalau ketiga komponen ini tak punya kemauan untuk merenovasi angka Golput, diprediksi akan terjadi besar-besaran pada Pemilu 2014 ini," ungkapnya.

Anggota KPU Riau Ilham berpendapat ada 4 faktor penyebab golput. Pertama, Golput karena ideologi. Kelompok ini mengharamkan ikut Pemilu disebabkan kepercayaan mereka.

Kedua, Golput sebagai bentuk perlawanan, ketiga perlawanan pemerintah tidak sesuai dengan riilnya, terakhir Golput karena administrasi. Faktor terakhir ini, karena administrasi yang amburadul membuat orang kehilangan hak pilih. 

"Memang kampanye di Riau tak semeriah di provinsi lain. Ini disebabkan kabut asap. Seharusnya deklarasi kampanye damai kita lakukan dengan cara karnaval, tapi karena kabut asap terpaksa dilakukan di dalam ruangan, " ucapnya.

Pengamat politik Maxsasai Indra berpendapat, media massa sebenarnya efektif mencegah masyarakat untuk Golput. Tetapi sekarang yang membuat masyarakat enggan untuk mempergunakan hak politiknya karena konsep Pemilu "dari Rakyat untuk Rakyat" itu tidak pernah terjadi.

"Untuk rakyat ini dinilai masyarakat tidak pernah terjadi. Mereka yang sudah memilih kemudian kecewa setelah melihat beberapa kasus korupsi seperti Hambalang, suap dalam pmilihan Gubernur BI dan terakhir kasus SKK Migas. Perselingkuhan antara eksekutif dan legislatif dalam sejumlah kasus itu menyebabkan masyarakat akhirnya memilih untuk Golput," pungkasnya.***(son)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Politik
Komentar