Delapan Pelajaran Hidup dari Imam Hanafi dan Maliki
Muhammad Zikri Rabu, 26 Juli 2017 20:18 WIB
RIAUHEADLINE.COM - Suatu hari, Guru dari Imam Mazhab Hanafi dan Maliki, yakni Jafar Ash-Shodiq pernah bertanya kepada salah satu muridnya.
"Apa yang telah kau pelajari dariku?"
"Aku belajar 8 hal." Jawab si murid.
"Kalau begitu, ceritakan kepadaku agar aku mengetahuinya." Kata Sang Imam.
Kemudian murid itu mulai menjelaskan,
Pertama, aku melihat semua kekasih akan meninggalkan kekasihnya ketika kematian datang, maka aku fokuskan daya upayaku untuk mencari sesuatu yang tidak akan pernah meninggalkanku, bahkan ia akan menemani dalam kesendirianku. Dialah amal baik, seperti firman Allah swt,
"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasannya)." (Al-Zalzalah 7)
"Bagus sekali, kemudian yang kedua?" tanya Sang Guru.
Kedua, aku melihat suatu kaum membanggakan kedudukan mereka dan yang lain membanggakan harta serta anak mereka, padahal kebanggaan itu sama sekali tak berarti. Dan aku melihat kebanggaan yang besar pada firman Allah swt,
"Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."(Al-Hujurat 13). Maka aku bersungguh-sungguh untuk menjadi mulia di sisi Allah swt.
Ketiga, aku melihat kealpaan manusia, sementara aku pernah mendengar firman Allah swt,
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya)."(An-Naziat 40-41). Maka aku berusaha untuk berpaling dari hawa nafsuku hingga dapat meraih keridaan-Nya.
Keempat, aku melihat setiap orang yang menemukan barang mulia, pasti ia akan menjaganya. Sementara Allah berfirman,
"Barangsiapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik (bersedekah), maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia." (Al-Hadiid 11). Maka aku lebih menyukai balasan yang berlipat dari-Nya dan aku pun tidak menemukan yang lebih bisa menjaga titipanku melebihi Dia. Setiap aku menemukan sesuatu yang mulia, akan kutitipkan kepada-Nya (dengan bersedekah) agar dapat menjadi simpananku ketika aku membutuhkan.
Kelima, aku melihat manusia saling iri dalam urusan rezeki mereka, padahal aku mendengar Allah berfirman,
"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhan-mu? Kami-lah yang Menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah Meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhan-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."(Az-Zukhruf 32)
Maka aku tidak akan iri kepada siapapun dan aku tidak akan menyesal atas apa yang telah hilang dariku.
Keenam, aku melihat manusia saling bermusuhan di dunia ini dan hati mereka dipenuhi dengan kebencian, padahal aku mendengar firman Allah swt,
"Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh."(Fathir 6). Maka aku sibukkan diriku untuk memusuhi setan daripada memusuhi yang lain.
Ketujuh, aku melihat manusia susah payah dalam mencari rizki, sementara aku mendengar firman Allah swt,
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dia-lah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh."(Adz-Dzariyat 56-58)
Maka aku pun tahu bahwa janji-Nya pasti benar dan perkataan-Nya selalu tepat. Dan aku pun tenang bersandar pada janji-Nya dan rela terhadap perkataan-Nya. Dan ku sibukkan diriku untuk melaksanakan perintah-Nya daripada aku bersusah payah mencari apa yang telah Dia janjikan.
Kedelapan, aku melihat suatu kaum berbincang mengenai sehatnya badan, banyaknya harta dan indahnya rupa mereka, sementara aku mendengar firman Allah swt,
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Membukakan jalan keluar baginya, Dan Dia Memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan Mencukupkan (keperluan)nya."(At-Thalaq 2-3). Maka aku hanya bertawakal kepada Allah swt dan tidak menyandarkan segala urusanku kepada selain-Nya.
Setelah mendengar uraian pelajaran yang disampaikan oleh muridnya itu, Imam pun berkata,"Demi Allah, sungguh Taurat, Injil, Zabur, Alquran dan semua Kitab itu kembali pada masalah-masalah yang kau sebutkan tadi."
Sumber: Inilah
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Sosial
MUI Imbau Umat Muslim Tidak Berziarah Kubur Selama Pandemi Corona
-
Bengkalis
Bupati Bengkalis Amril Mukminin Sebut Al-Quran Sumber Inspirasi
-
Nasional
Gerindra dan Muhammadiyah Kompak Menolak Pemotongan Gaji ASN untuk Zakat
-
Sosial
Pemko Dumai Canangkan Program Magrib Mengaji
-
Sosial
Tidak Beriman Orang yang Tidak Amanah
-
Sosial
Benarkah Orang Mati Bisa Mendengar?

