Terkait Pemberitaan Pembayaran Obat,
Dirut RSUD Dumai Gelar Rapat Mendadak Bersama Jajarannya
Minggu, 08 Desember 2013 12:39 WIB
DUMAI - Menindaklanjuti pemberitaan tentang adanya pembayaran obat bagi pasien peserta Askes, Jamkesko, Jampersal dan Jamkesda, pihak Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Dumai langsung menggelar rapat mendadak dengan jajaranya untuk memastikan kabar tersebut.
Dirut RSUD Dumai, Syaiful ketika dikonfirmasi menerangkan bahwa pelayanan juga punya prosedur. Namun, tidak banyak yang memahami kerja pelayanan di RSUD Dumai, sehingga pihaknya merasa sering mendapat tudingan yang menyudutkan tentang adanya pengutuan sujumlah uang itu.
"Untuk pasien peserta Askes, resep dokter harus mendapat persetujuan dari PT. Askes itu sendiri. Konter PT Askes itu juga ada di RSUD tersebut. Tujuannya memang untuk melayani peserta Askes yang merujuk di RSUD kebanggaan masyarakat Dumai itu dan tidak ada pungutan," ucapnya, kemarin.
Dikatakan pihaknya lagi, pelayanan tentu ada prosedlnya. Obat yang sudah diresep dokter dibawa ke konter PT. Askes, lalu mereka menyetujui. Obat apa saja yang ditanggung Askes, tentu pihak askes yang mengetahui. Jadi semua itu melalui mekanisme dan prosedur belaku.
"Informasi yang simpang siur tersebut pecah akibat adanya miskomunikasi dengan keluarga pasien peserta Askes. Karena, keluarga pasien bernama Amris anggota DPRD Dumai mengurus anaknya yang dirawat di ruang kelas I. Prosedur peserta Askes tetap dijalankan namun Amris tidak menerima," ucap Syaiful.
Ia juga tidak menampik terkait adanya desas-desus pasien Jamkesda, Jampersal dan Jamkesko masih membeli sebagian obat. Namun, ia meluruskan, obat berbayar untuk pasien kelas III itu sebetulnya obat paten, atau obat di luar tanggungan negara.
"Hal tersebut biasanya atas persetujuan keluarga pasien. Semua obat generik tidak ada yang berbayar. Kadang dokter menyarankan obat paten, kalau usulan dokter diterima maka keluarga pasien tentu membayar. Sebab, obat paten tidak tersedia di rumah sakit," katanya.
Terkait obat generik dan obat paten bukan berbeda dari segi kualitas. Karena, obat generik yang sudah disediakan negara merupakan standar untuk mempercepat kesembuhan pasien. Sedangkan obat paten, dengan kemasan yang berbeda, dan memberikan rasa yang lebih baik menjadikan harganya lebih mahal.
"Ibarat pelepas dahaga, ada air putih dan jus. obat generik itu bagaikan air putih, yang bisa melepas dahaga. Mungkin obat paten seperti jus, disamping melepas dahaga, rasanya juga lebih manis dan tampilannya ekslusif. Begitu saja perbedaannya," katanya.***(die)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Pendidikan
5 Tips Bijak Bermedia Sosial Ala Remaja Terbaru 2024
-
Hiburan
Via Vallen Teriak Histeris Dengar Suara Rintihan Saat Live IG
-
Sosial
Mensos Bersama Gubernur Riau Kunjungi Balai Abiseka Pekanbaru
-
Sosial
Menteri Sosial Minta Bank Buka Blokir Kartu Bansos di Riau
-
Lingkungan
Upaya Pemerintah Dalam Pelaksanaan Perhutanan Sosial Riau
-
Ekbis
Gubernur Riau Promosikan Produk UMKM Masyarakat Lewat Medsos Pribadinya

