• Home
  • Sosial
  • Disnak Pelalawan Periksa Kesehatan Hewan Kurban

Disnak Pelalawan Periksa Kesehatan Hewan Kurban

Minggu, 29 September 2013 16:03 WIB

PELALAWAN, RIAUHEADLINE.COM- Guna mengawasi dan memeriksa kondisi kesehatan hewan yang akan dijadikan qurban dalam Hari Raya Iedul Adha 1433 H mendatang, mulai Senin besok (29/9) sampai tanggal 16 Oktober mendatang, tim kesehatan dari Dinas Peternakan Kabupaten Pelalawan akan turun ke tiap-tiap kecamatan di daerah ini. 

Tim ini diterjunkan guna mengantisipasi adanya hewan kurban yang tak layak dikurbankan pada Hari Raya Idul Adha 1433 Hijriyah ini.

"Tim yang akan terbagi ke dalam dua wilayah itu tugasnya melakukan pengawasan terhadap pedagang hewan kurban serta mensosialisasikan syarat-syarat hewan kurban. Soalnya, kita tak mau kecolongan yang mengakibatkan kerugian pada masyarakat seperti ditemukannya jenis penyakit gonosis, misalnya antrax atau lainnya," terang Kepala Dinas Peternakan, Drs Wahiduddin, pada media ini, Minggu (29/9).

Wahiduddin menjelaskan bahwa selain itu tim yang turun itu bertujuan juga untuk mengantisipasi agar tak ada hewan ternak yang produktif khususnya sapi betina yang dipotong. Pasalnya, para pedagang dilarang untuk menjual sapi betina yang produktif untuk dikurbankan pada hari raya Iedul Adha itu.

"Dan hal ini telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan," ujarnya.

Dalam undang-undang Nomor 18 itu, sambungnya, dijelaskan bahwa sapi betina produktif adalah sapi betina yang melahirkan kurang dari 5 kali atau berumur di bawah 8 thun, atau sapi betina yang berdasarkan hasil pemeriksaan reproduksi dokter hewan atau petugas teknis yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan dan dinyatakan memiliki organ reproduksi normal serta dapat berfungsi optimal sebagai sapi induk.

"Jika melanggar, maka ada sanksi yang menjerat karena selain pidana juga dikenakan denda," tandasnya. Dan kebutuhan jumlah ternak untuk daerah ini sendiri, lanjutnya, maka dari data yang ada di pihaknya saat ini Disnak Pelalawan telah mempersiapkan sekitar 1.227 hewan kurban. Dari jumlah tersebut, hewan kurban sapi tergolong paling banyak yakni sekitar 815 ekor, kerbau 140 ekor dan kambing sebanyak 272 ekor.

"Jumlah kesiapan hewan qurban untuk tahun 2013 ini agak lebih menurun sedikit dibandingkan tahun lalu yang berjumlah sekitar 1.272 ekor. Dan kita juga menghimbau agar para pedagang tak seenaknya menaikkan harga sapi, meski saat ini memang harga daging sapi alami kelonjakan," ujarnya seraya mengatakan bahwa untuk kisaran harga ternak sangat bervariasi.

"Sedangkan untuk sapi yang datang dari luar seperti dari Lampung dan Padang, maka begitu datang akan kami langsung karantina terlebih dahulu untuk diperiksa kesehatannya, apakah sapi tersebut bebas dari penyakit atau tidak sehingga bebas untuk dikonsumsi," ujarnya.

Dikatakannya, pemeriksaan kesehatan hewan ternak ini sesuai dengan Peraturan Direktorat Jenderal Peternakan Nomor
59/Kpts/PD610/05/2007 tanggal 9 Mei 2007, tentang jenis-jenis penyakit hewan menular yang mendapat prioritas pengendalian dan atau pemberantasannya. Pasalnya, ada 12 penyakit hewan yang mendapat prioritas pengendalian dan pemberantasannya yang disesuaikan dengan keberadaan pada masing-masing daerah.

"Khusus untuk hewan ternak, penyakit yang menjadi perioritas adalah penyakit antraks. Penyakit ini merupakan penyakit menular bersifat perakut, akut dan kronis yang ditandai dengan gejala umum seperti tidak nafsu makan, gelisah, depresi, otot-otot lemah, pembengkakan di daerah leher, dada, perut dan pembengkakan limpa dan alat kelamin luar," katanya.

Ditambahkannya, penyakit antraks sendiri penyebabnya adalah bacillus antracis. Pada sapi, gejala awal ditandai dengan demam tinggi sampai 42 derajat celsius, dan pada puncaknya terjadi pendarahan melalui lubang kumlah yakni darah yang keluar melalui dubur, mulut, lubang hidung dan kemihnya.

"Sedangkan pada kambing dan domba biasanya bentuk perakut ditandai dengan hewan berputar-putar, gigi gemertak dan mati dalam beberapa menit setelah darah keluar dari lubang kumlah. Dan antraks sendiri merupakan jenis penyakit zoonosis atau bisa menular kepada manusia," bebernya seraya mengatakan bahwa pihaknya menghimbau pada masyarakat serta para pedagang hewan kurban untuk benar-benar memperhatikan hewan yang hendak dikurbankan.***(Jhon)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Sosial
Komentar