• Home
  • Sosial
  • Gawat, Beredar Bibit Sawit Palsu di Riau

Gawat, Beredar Bibit Sawit Palsu di Riau

Selasa, 12 Agustus 2014 18:07 WIB

PEKANBARU - Luas area perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau terus mengalami peningkatan. Saat ini saja, tercatat 2,3 juta hektar areal kelapa sawit terhampar diseluruh Kabupaten Kota di Riau.

Dari luas itu, 1,3 juta hektar atau 55,4 persen merupakan kebun milik masyarakat, 977 ribu hektar atau 41,2 persen milik perusahaan swasta dan 79 ribu atau 3,4 persen hektare merupakan milik Pemerintah.

Hal ini terungkap dalam halal bi halal yang digelar PT Asian Agri dengan insan media di Koki Sunda Pekanbaru, Selasa (11/8/2014).

Head CSR Asian Agri Riau, Rafmen dalam pemaparannya mengatakan, ditengah menggeliatnya pertumbuhan area perkebunan sawit ini, para petani sawit terutama petani swadaya binaan Asian Agri, masih mengalami beberapa tantangan.

Mulai dari persoalan produktifitas Tandan Buah Segar (TBS) yang masih dibawah harapan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti peredaran bibit palsu, pengadaan pupuk bermutu serta ketersediaan infrastruktur yang masih jelek.

Tidak hanya itu, persoalan lain yang ikut mempengaruhi tingkat produksi juga minimnya kelembagaan yang membackup petani, sehingga para petani masih bergantung kepada tengkulak dalam memasarkan hasil panen mereka.

Di sisi lain, peran instansi terkait terutama Pemerintah masih sangat minim, sehingga menyulitkan petani dalam mengembangkan usaha mereka.

"Faktor-faktor itu ikut mempengaruhi masih rendahnya produktivitas tadi," ujarnya.

Sementara itu, Head Plasma Asian Agri, Pengarapen Gursinga mengatakan, persoalan bibit palsu memang menjadi tantangan tersendiri bagi para petani sawit, terutama petani binaan Asian Agri.

Karena itu, Asian Agri melakukan perubahan dalam pola pengembangan para petani agar terhindar dari permaalahan bibit palsu.

Salah satunya dengan pengembangan pengadaan bibit kecambah unggulan.

"Sekarang kita sudah bisa produksi sendiri bibit kecambah yang berkualitas, untuk pengembangannya kita pusatkan di Topaz, Kabupaten Kampar, Riau," tukasnya.

Menurut Gurusinga, bibit palsu ini merupakan persoalan yang sangat serius, mengingat bentuk fisik bibit palsu dengan yang asli sulit untuk dibedakan.

"Makanya kita minta para petani khususnya yang merupakan petani swadaya dan plasma langsung membeli bibit ke Topaz tempat pengembangan kita itu," tandasnya.***(hrc-din)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Sosial
Komentar