Piala Adipura versus DBD di Bengkalis

Sabtu, 30 Agustus 2014 15:14 WIB

BENGKALIS - Belum hilang dari benak pada pekan pertama Juni 2014 lalu, hingar-bingar, kemewahan hingga kemeriahan dipertontonkan ke masyarakat bahwa telah berhasilnya Kota Bengkalis dinobatkan sebagai Kota Kecil Terbersih 2014 diberikan oleh Pemerintah Pusat senusantara. 

Penghargaan luar biasa itu disimbolkan dengan sebutan Piala Adipura, dan diperoleh secara beruntun ketiga kalinya. Ironis ataukah miris?, sekarang warga di daerah ini mulai ‘ketakutan’ mendengar serangan nyamuk yang kecil disebut Aedes Aegepty yang ‘sakti’, karena menjadi biang penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) yang kini wabahnya hampir sulit dicegah, dan bahkan sudah mendekati Kondisi Luar Biasa (KLB) sebagai daerah endemi.

Buktinya, hanya perlu kurun waktu dua bulan, sejak Juli hingga Agustus 2014, nyamuk yang ’happy berkembang biak di air tergenang itu telah dilaporkan merenggut nyawa tiga jiwa penduduk berdomisili di Pulau Bengkalis dan tercatat lebih dari 300 kasus di Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Bengkalis. 

Bagi warga ‘jauh’ dari Bengkalis Kota yang terbatas infrastruktur, atau mungkin informasi, bekerja hanya sebagai buruh, petasi karet atau tukang kebun, pembantu rumah tangga dan pemulung, tentu tidak pernah merasa rugi jika tidak perduli ada penghargaan Adipura tersebut. 

Bagi mereka terpenting adalah kebutuhan terus terpenuhi, setelah keringat keluar uang didapat, hasil dari menyadap karet kemudian dijual memuaskan, pekerjaan mencuci dan menyetrika baju beres dan hasil kumpul plastik berkilo-kilogram.

Hari ini, mereka tidak hanya harus memikirkan demi ‘kampung sejengkal’ atau ‘perut’ kadang terpaksa harus gali lubang dan tutup lubang atau mengeluh karena jalan masih rusak, atau bahkan harga getah karet turun dan sembako naik. Akan tetapi mereka juga harus menghadapi ‘momok’ dari ganasnya seekor nyamuk mematikan. “Apa peran Penghargaan Adipura Kota Kecil Terbersih secara mewah itu?,” cetus Herman (37), warga Kota Bengkalis.

Nah, harus ada langkah nyata mengatasi persoalan kesehatan ini secara bersama-sama, bukan seharusnya muncul tanggapan seolah-olah seperti adu kekuatan antara Tim Adipura Kota Kecil Terbersih Nasional versus Tim DBD dengan serangannya yang mematikan, demi membuktikan siapa yang menang.

Tidak hanya peran aktif atau cepat tanggapnya para petugas medis yang harus didesak, tetapi bagaimana dengan proaktif masyarakat yang tidak ‘takut’ kotor membersihkan rumah dan lingkungan sekitar karena menyadari dalil “kebersihan itu adalah sebagian dari iman”?.***(dik) 
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Sosial
Komentar