Hari Pahlawan Momentum Pengabdian Terbaik

Minggu, 10 November 2013 19:26 WIB

SELATPANJANG - Setiap tanggal 10 November dijadikan pemerintah sebagai Hari Pahlawan. Untuk mengenang para jasa pahlawan itu seluruh Indonesia memperingati dengan berbagai cara diantara upacara bendera dan tabur bunga di makam pahlawan.

Penetapan Hari Pahlawan itu berkaitan erat dengan Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Dimana ribuan penduduk Indonesia yang berada di Surabaya tidak mau menyerahkan pembunuh Jenderal Malaby kepada pasukan tentara Inggris dan sekutu. 

Ultimaltum yang dilontarkan oleh Inggris dan sekutu, mereka lawan dengan berjuang hingga tetesan darah terakhir demi untuk membela tanah pertiwi. 

Pada hari itu, ribuan pejuang gugur sebagai syuhada, namun semangat kepahlawanan mereka tak pernah pudar, bak kata Hang Tuah, "Hilang Satu Tumbuh Seribu". Maka ditetapkanlah tanggal 10 November itu sebagai hari Pahlawan.
 
Menurut Afrizal  Cik, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kepulauan Meranti, terkait peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, "Tekat dan semangat serta tauladan yang telah diberikan oleh para pejuang pendahulu kita untuk negeri ini lebih baik harus kita tiru, kita reefleksikan sesuai dengan fungsi dan peran kita di masyarakat sebagai anak kandung bangsa ini."
 
Afrizal Cik juga menambakan, "Sebenarnya masih  banyak peristiwa heroik yang telah ditunjukan oleh para pejuang bangsa ini  kepada kita semua dalam beberapa peristiwa besar dalam mempertahankan maartabat bangsa ini, umpamanya Serangan Umum 1 Maret di Jogjakarta, Bandung Lautan Api, Palangan Ambarawa, Puputan Margarana di Bali dan banyak juga pertempuran hebat termasuk juga peristiwa 5 Januari  1949 di Selatpanjang."
 
Sempena Hari Pahlawan ini  Afrizal Cik juga mengajak kita semua untuk mengenang peristiwa heroik yang terjadi di Kepulauan Meranti.
 
"Setelah kota selatpanjang hancur lebur diserang pasukan tentara Belanda pada 29 Desember 1948, maka mengungsilah pasukan pejuang baik dari pasukan TNI maupun kesatuan lainnya ke Kampung Alai, Tebing Tinggi Barat. Selanjutnya dari tempat persembunyian ini pada Rabu dinihari, 5 Januari 1949, pasukan perlawanan telah sampai di kota Selatpanjang." 

Setelah memasuki batas kota, pasukan yang datang dari Jalan Alah Air ini mulai masuk ke Lorong Skip (sekarang Jalan Imam Bonjol), kemudian ke Jalan Pertis. Keluar dari persimpangan jalan Pertis dengan Teuku umar, pasukan TNI dan para pejuang langsung menyerang Tangsi Militer Belanda yang berada di persimpangan antar Jalan Pertis dengan Teuku Umar.
 
Sementara itu, pasukan TNI dan pejuang lainnya secara mendadak juga menyerang pusat-pusat pemerintahan yang dikuasai oleh Belanda. Serangan dimulai sekitar pukul 04.30 WIB. Aksi pasukan TNI, Barisan Rakyat Tentara Sabilillah, dan para pejuang lainnya ini berhasil mengejutkan Belanda yang menguasai Selatpanjang.
 
Para petinggi TNI dan para pemimpin Barisan Rakyat Tentara Sabilillah telah bergabung di dalam Kota Selatpanjang. Di antara mereka  juga terdapat pasukan pimpinan Letda Ahmad Giman dan Syarif Harun. Pasukan ini telah seminggu berada di luar Kota Selatpanjang. Mereka datang dari Sungaipakning setelah membantu pasukan perlawanan di Bengkalis berperang melawan tentara Belanda.
 
Tangsi Militer Belanda yang berada di Jalan Teuku Umar diserang pasukan TNI yang dipimpin oleh Letda A. Murad Saidun dan Letda Ahmad Giman. Serangan mendadak dan koordinasi yang rapi dari pasukan perlawanan membuat tentara Belanda di tangsi ini tidak dapat berbuat banyak. Tidak sedikit tentara Belanda yang tewas tembusan peluru dan tebasan pedang. Dalam sesaat, tangsi Belanda ini dapat dikuasai oleh pasukan perlawanan.
 
Pertempuran di Tangsi Militer Belanda memperlihatkan kekuatan gabungan antara  militer dan pasukan pejuang. Sembilan orang santri Kyai Imam Afandi dari Kampung Insit berperang dengan gagah berani. Berbekal parang, sembilan santri ini mengamuk, menebas, dan memenggal leher tentara Belanda. Aksi para santri ini mengakibatkan beberapa tentara  Belanda tewas.
 
Kyai Imam Afandi memang tidak ikut dalam penyerbuan ini. Beliau hanya menitipkan sembilan santrinya. Setelah memberikan petujuk dan membacakan doa, Kyai Imam Afandi melepaskan kesembilan santrinya untuk bergabung dengan pasukan TNI yang dipimpin oleh Letda A. Murad saidun”.
 
Cuplikan kisah perjuangan pasukan TNI dan para pejuang di Kepulauan Meranti itu dapat juga di baca di buku Tanah Jantan yang Melawan. Sebuah buku sejarah yang ditulis Afrizal Cik sendiri, yang melakukan penelitian dan mewawancara tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan. Paling tidak  dengan membaca buku itu dapat menimbulkan semangat cinta tanah air dan rela berkorban. 

Sebab, menurut Afrizal Cik, apa yang telah dilkukan para pahlawan di negeri yang bejuluk Tanah Jantan itu adalah sebuah keikhlasan dan pengabdian terbaik. "Dari nama-nama yang  berperan dalam perjuangan membela kemerdekaan di Kepulauan Meranti maupun di daerah lain itu, tidak ada mereka meminta jabatan kepada negara ini baik untuk dirinya sendiri maupun untuk anak cucunya. Yang mereka inginkan hanyalah negeri ini merdeka, bisa menentukan nasipnya sendiri, bisa memberikan kemakmuran yang sebesar-besarnya kepada rakyat."
 
Untuk itu keteladanan yang telah mereka tunjukan seharusnya menjadi teladan bagi kita generasi muda, penerus perjuangan, terutama termasuk juga kita yang saat ini  yang berkesempatan untuk mengurus negeri ini, maka bertindaklah, bekerjalah, ambillah kebijakan dengan pengabdian  terbaik yang  ikhlas untuk kepentingan orang banyak. 

"Walau saat ini seikhlas-ikhlasnya kita berjuang untuk negeri ini, tentu kualitas ikhlas kita berbeda dengan para pejuang kemerdekaan dahulu. Sebab perjuangan kita dalam mengurus negeri ini saat ini masih mendapat bagian dari APBD berupa gaji dan tunjangan. Oleh karena itu, seharusnya bagi kita yang mengurus orang banyak, berikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat. Hilangkan prinsip kuno birokrasi yang berslogan "Kalau Bisa Dipersulit, Kenapa Harus Dipermudah". Prinsip birokrasi kuno itu kita alihkan  menjadi "Kalau Bisa Dipermudah, Jangan Dipersulit."
 
Sempena dengan semangat Hari Pahlawan tahun ini, ketika ditanya soal pembangunan fisik di Kepulauan Meranti, apakah sesuai dengan harapannya sebagai wakil dari masyarakat atau tidak, Afrizal Cik menjawab, "Persoalan pembangunan baik fisik maupun non fisik juga merupakan bentuk pelayanan. Membangun sesuatu sesuai dengan harapan dan keinginan masyarakat merupakan sebuah pengabdian dan pelayanan yang terbaik dari pelaksana pemerintahan," katanya melanjutkan. 

Sedangkan membangun yang tak sesuai dengan keinginan masyarakat itu merupakan pengkianatan terhadap amanah yang telah diberikan oleh para pejuang yang mendirikan negeri ini. "Untuk saat ini, apa yang diwacanakan oleh Bupati  Kepulauan Meranti  dalam membangun Kepulauan Meranti tampaknya sangat bagus, namun  di sisi lain, para pelaksana di lapangan agak berbeda menterjemahkan ide-ide Bupati, mungkin barangkali seperti itu," pungkasnya. (fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags
Komentar