• Home
  • Ekbis
  • Abon Gabus Usaha B@ngkit.com Asal Langgam Prospektif

Abon Gabus Usaha B@ngkit.com Asal Langgam Prospektif

Minggu, 13 April 2014 17:57 WIB

PANGKALANKERINCI - Abon Gabus dan berbagai jenis ikan dari unit usaha bernama b@ngkit.com. Kelompok usaha bermarkas di Kelurahan Langgam siap merambah kedunia pasar. Usaha ini merupakan salah satu program CSR PT EMP Bentu Limited.

Ketua pengurus b@ngkit.com, Zulkhairi, ketika berbincang dengan riauterkini.com, Ahad (13/4/14) usaha ini berawal dari keinginannya dan kelompoknya untuk memajukan pangan olahan ikan masyarakat. Khususnya, mengupayakan ikan gabus (bulek) agar dapat diolah menjadi abon ikan (sambal koeng) sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas.

“Abon ikan gabus ini biasanya menjadi menu makanan sambal ketupat pada takbiran Hari Raya Idul Fitri atau Sambal Nasi Pulut pada waktu acara adat di Kampung Langgam,” tutur Zulkhairi

. Di Langgam, pasokan ikan gabus cukup melimpah. Ikan ini diperoleh dari nelayan pencari ikan di sungai. Sayangnya, jenis ikan ini masih belum bisa dibudidayakan. Sehingga, dalam perjalanannya, Zulkhairi dan kawan-kawan tidak hanya fokus pada ikan gabus. Namun juga memproduksi abon ikan patin untuk memenuhi permintaan pembeli yang semakin meningkat.

Zulkhairi menuturkan, rata-rata dibutuhkan pasokan ikan segar sebesar 150 kg ikan gabus dan 150 kg ikan patin per bulannya. Dari jumlah itu, Zulkhairi mengaku mampu menghasilkan 75 kg abon ikan gabus dan 75 kg abon ikan patin.

Abon ikan gabus cap b@ngkit.com kemasan 1 kilogram dibanderol Rp 250.000,- dan abon ikan patin Rp 235.000,-. Menurutnya, margin keuntungan yang didapatkannya cukup besar.

Memang, dibanding awal mula b@ngkit.com didirikan pada 2009, omzet kelompok usaha ini naik cukup signifikan. Jika pada tahun 2009 omzet rata-rata per bulan hanya Rp 700.000,- maka omzet per bulan pada tahun 2013 mencapai Rp 7.500.000.

“Di Pelalawan sendiri, peluang masih terbuka lebar. Karena rata-rata produsen abon ikan di sini hanya mengandalkan produksi dari pesanan,” tuturnya.

Produksi abon dihasilkan melalui sejumlah teknik pengolahan. Pada prinsipnya, proses pembuatan abon ikan mirip dengan pembuatan abon daging sapi atau ayam.

Zulkhairi menjelaskan, awalnya ikan dipisahkan kepala dari badannya lalu dicuci dengan air. Dia kemudian merebus potongan ikan hingga matang, lantas ikan dipisahkan dari tulangnya.

Ikan yang telah matang dan terpisah dari tulangnya dimasukkan bumbu racikan dan digulai sampai kering. Kemudian dibiarkan sampai mencapai suhu kamar, dikemas dalam plastik kemasan, dan akhirnya dikemas ulang dalam kemasan karton.

Kendati bisa bertahan selama 6 bulan di dalam kemasan toples, di kotak kemasan dituliskan abon bertahan selama 3 bulan. Sedangkan untuk kemasan plastik yang direkat dalam kondisi suhu kamar bisa tahan sampai 4 bulan.

Zulkhairi menjamin bahwa produk abon ikan yang dihasilkannya tidak menggunakan bahan pengawet. “Standardisasi kesehatan dari dinas kesehatan juga sudah ada,” katanya.

Terkait persoalan, pemasaran Zulkhairi memilih teknik pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth) untuk mempromosikan abon ikan buatan b@ngkit.com. Dari teknik pemasaran ampuh ini, abon ikan gabus dan ikan patin mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Kemasan abon ikan ini juga telah tersedia di banyak toko oleh-oleh, baik di Pangkalan Kerinci maupun di Kota Pekanbaru. Selain itu, bersama EMP Bentu Ltd, abon ikan gabus ini dipasarkan ke pasar modern, dengan mengikutsertakannya ke perhelatan sejumlah pameran baik berskala lokal maupun nasional.

Pemerintah lokal juga memberi perhatian terhadap ragam penganan khas Langgam ini. Salah satunya dengan menjadikan abon ikan gabus sebagai salah satu pernik oleh-oleh bagi tetamu luar daerah yang mengadakan kunjungan dinas ke Kabupaten Pelalawan.

Seiring berjalannya waktu, b@ngkit.com semakin berkembang. Selain memproduksi abon ikan kini kelompok usaha ini juga memproduksi nugget, kerupuk dan fillet ikan. “Dengan penerapan teknologi pengolahan, manajemen dan penambahan modal, maka diharapkan ke depan usaha ini akan mampu membuka lapangan pekerjaan yang lebih besar bagi warga sekitar,” tutur Zulkhairi.

Sebagai data tambahan, abon ikan memiliki pangsa pasarnya tersendiri. Tak terkecuali abon ikan gabus. Selain lezat dan bertekstur halus, abon ikan gabus sangat segmented dengan ciri khasnya yang pedas.

Abon, kudapan berwarna coklat kehitaman ini umumnya berasa gurih dan berserat. Orang mengonsumsi abon sebagai alternatif lauk pendamping nasi putih, bubur atau isian roti.

Meski pangsa pasarnya begitu besar, namun persaingan di bisnis ini kian ketat. Jika selama ini orang membuat abon dari daging sapi dan ayam, sejumlah produsen mencoba mendobrak kebuntuan persaingan di industri ini dengan memanfaatkan ikan sebagai bahan dasarnya.

Salah satu produsen yang melakukannya adalah kelompok usaha bernama b@ngkit.com. Kelompok usaha bermarkas di Kelurahan Langgam, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan ini dibentuk pada tahun 2009 oleh empat orang pemuda di akhir masa studinya di perguruan tinggi di Riau.

Kelompok usaha b@ngkit.com ini terus menjalin kerja sama dengan Tim CSR perusahaan migas EMP Bentu Ltd untuk memajukan usahanya. Kerja sama ini diwujudkan melalui sinergi yang baik antara EMP Bentu dan kelompok kerja (pokja) Gema Aso Alam, sebuah pokja di Kelurahan Langgam.***(feb) 
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Ekbis
Komentar