ISEI Kupas Perekonomian Riau dan Prospek di 2014
Kamis, 12 Desember 2013 19:03 WIB
PEKANBARU - Bank Indonesia perwakilan Riau bekerjasama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) menyelenggarakan seminar sehari yang membahas Evaluasi Pelaksanaan Perekonomian Riau 2013 serta Prospeknya untuk di tahun 2014 mendatang, Kamis (12/12/2013).
Dengan menghadirkan tiga orang nara sumber, seminar yang juga diikuti oleh perwakilan sejumlah bank di Pekanbaru ini menghasilkan tentang gambaran akan tantangan ekonomi yang semakin ketat untuk provinsi Riau ditahun mendatang. Menurut Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Rudy B Hutabarat yang menjadi salah satu nara sumber yang dihadirkan, secara garis besar ekonomi Indonesia di tahun 2014 sedikit banyaknya akan sangat terpengaruh oleh pergerakan dan perkembangan ekonomi global.
"Sejak tahun 2009 sampai saat ini, secara umum ekonomi global mengalami perlambatan. Ekonomi Indonesia beberapa waktu terakhir juga mulai serupa dengan pergerakan ekonomi di negara Cina yang bertumpu pada usaha kecil. Kondisi ini memberi porsi pertumbuhan ekonomi cukup besar, mencapai 6 persen,"ujarnya.
Rudy menjelaskan, pasar domestik Indonesia secara umum terus mengalami tekanan. Bahkan sejak triwulan IV 2011 lalu, transaksi impor dan ekspor juga masih berada di posisi negatif. Hal ini juga diakibatkan oleh ekspor Indonesia yang sangat bergantung pada hasil alam, sedangkan industri manufaktur sangat bergantung pada komponen impor berbiaya tinggi. Dengan kondisi tersebut, di tahun 2014 mendatang, BI memprediksikan perekonomian Indonesia akan tumbuh di angka 5,8 sampai 6,2 persen, angka inflasi berada di posisi 4,5 ± 1 persen dan pertumbuhan kredit akan melambat dibanding tahun ini yaitu di posisi 15 hingga 17 persen.
Sementara itu pemateri kedua, Koordinator FGD Investasi Perdagangan dan Industri ISEI yang juga akademisi Universitas Riau, Zulkarnain, ikut membahas perekonomian Riau dari sisi belanja modal pemerintah daerah untuk investasi dan pembiayaan pembangunan. Berdasarkan data yang dimilikinya tahun 2013 ini, nilai investasi yang dikucurkan swasta lebih kurang mencapai angka Rp 35,37 triliun (59 persen) sedangkan pemerintah daerah hanya Rp 24,24 triliun atau sekitar 40,67 persen.
"Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi dibutuhkan anggaran sebesar Rp 59,72 triliun, jadi masih ada kekurangan anggaran sekitar Rp 105 miliar untuk mencapai target tersebut,"ungkapnya.
Untuk itu, ia juga menekankan kepada Pemprov Riau agar di tahun mendatang bisa lebih memperhatikan revitalisasi sektor perkebunan di Riau yang sebagian besar sudah masuk masa replanting. Selain itu, pemerintah juga mesti mempersiapkan produk dalam negeri yang nantinya akan bersaing menghadapi masyarakat ekonomi Asean di tahun 2015 mendatang.***(gas)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar
-
Politik
DPRD Pekanbaru Desak Prioritas Drainase 2026

