Kadisbun Riau Sebut Harga TBS Sawit Riau Capai Rp 2.000 Perkilogram
Selasa, 18 Februari 2014 16:06 WIB
PEKANBARU - Petani Kelapa Sawit Riau patut berbangga, dimana Harga Tandan Buah Segar (TBS) terus naik. Untuk periode tanggal 19-25 Februari 2014, harga naik Rp 34,87 per kilogramnya.
Hal itu terungkap langsung pada Rapat Penetapan Harga TBS yang dipimpin langsung oleh Kadisbun Riau, Drs H Zulher MS di aula Kantor Disbun Riau, Selasa (18/2/2014).
Harga TBS tersebut adalah untuk umur 3 tahun yaitu Rp 1.445,53/kg, umur 4 tahun Rp 1.614,38/kg, umur 5 tahun yaitu Rp 1.727,57/kg, umur 6 tahun yaitu Rp 1.778,24/kg, umur 7 tahun Rp 1.846,16/kg, umur 8 tahun Rp 1.903,70/kg, umur 9 tahun Rp 1.964,74/kg dan umur 10 tahun keatas adalah Rp 2.019,59/kg. Sedangkan untuk harga CPO adalah Rp 9.016,83/kg dan PKO adalah 6.093,65/kg.
Kadisbun Riau, Zulher, mengungkapkan rasa senangnya akan kenaikan harga TBS ini. Menurutnya harga sawit naik dalam beberapa bulan belakangan ini karena permintaan CPO dari pasar global sangat besar dan juga tingkat penerimaan pasar global terhadap kualitas CPO Indonesia terus naik.
'Prediksi saya, harga TBS ini akan terus naik dan bisa mengalahkan harga tertinggi pada tahun 2008 yaitu Rp 2.300/kg,' ungkap optimis Zulher.
Untuk menjaga kenaikan harga ini terus bertahan diatas angka Rp 2.000/kg, Zulher sangat mengharapkan keseriusan pelaku usaha perkebunan baik petani dan perusahaan untuk melakukan pengelolaan usaha perkebunan yang baik dan benar.
'Harga yang tinggi 2-3 bulan terakhir ini harus terus kita jaga. Jangan sampai kembali turun pada titik yang terendah seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu kita harus tahu bisa mengelola usaha perkebunan dengan baik dan benar. Bagaimana caranya merawat tanaman dengan baik, kapan diberi pupuk, pemanenan pada saat buah matang sempurna hingga pemeliharaan yang lainnya,' ujar Zulher.
Sementara itu, salah satu faktor penting lainnya yang harus terus diperhatikan oleh perusahaan subsektor perkebunan adalah menyeriusi sertifikasi Indonesia Suistainablity Palm Oil (ISPO) yang telah menjadi mandatory bagi perusahaan perkebunan untuk mendapatkan sertifikat tersebut hingga Desember tahun 2014 ini.
Dengan terpenuhinya segala persyaratan sertifikasi ISPO ini maka tingkat permintaan dari pasar global akan terus naik dan bertambah.
'Salah satu issu yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah tentang issue lingkungan terutama pada saat rawan terjadinya kebakaran. Jangan sampai dengan adanya stigma pencemaran lingkungan ini baik dari kebakaran hingga pengelolaan usaha perkebunan yang tidak pro lingkungan maka kembali mengubah pandangan masyarakat global yang akhir-akhir ini telah membaik,' ujar Zulher.
Untuk itu dia sangat mengharapkan pemenuhan sertifikasi ISPO menjadi fokus utama bagi perusahaan.
Disbun Sediakan Lahan Untuk Pembangunan Stasiun Cuaca
Riau sebagai daerah rawan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) telah membuat beberapa pihak yang terkait mencari solusi permanen dan jangka panjang. Salah satu nya adalah Dinas Perkebunan Provinsi Riau yang merupakan Stakeholder yang berperan penting dalam pengelolaan usaha perkebunan di Provinsi Riau.
Salah satu program yang sekarang ini dilakukan oleh Disbun Riau adalah mengadakan kerjasama dengan Badan Meteroeologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru.
Kerjasama antara Disbun Riau dan BMKG ini adalah penyediaan pusat informasi yang menyeluruh tentang perkembangan cuaca di provinsi Riau yang berhubungan dengan dengan subsector perkebunan.
Hal itu diungkapkan oleh Kadisbun Riau, Drs Zulher MS disela-sela kunjungan ke lokasi pembangunan pusat informasi stasiun Cuaca yang akan dibangun di lahan milik Disbun Riau yang berada di Desa Kualu Nenas Kabupaten Kampar.
'Kita sengaja menyediakan lahan ini untuk pembangunan stasiun cuaca. Nanti dari stasiun cuaca ini kita akan menyediakan informasi yang menyeluruh yang berhubungan dengan subsektor perkebunan maupun pertanian secara umum,' terang Zulher.
Dia juga menjelaskan nantinya stasiun ini bukan saja berfungsi untuk informasi kebakaran lahan namun juga dapat menjadi pusat informasi bagi petani secara umum baik petani pekebun maupun petani tanaman pangan.
Dari stasiun ini akan disediakan data yang akurat tentang kapan menanam tanaman yang baik, memupuk yang baik maupun informasi lintasan petir yang akhir-akhir ini telah terjadi di Riau.
'Kita tidak main-main dalam memperhatikan perkembangan cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini. Untuk itu kita gandeng BMKG Pekanbaru,' ujar Zulher.
Sementara itu Kepala BMKG Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru, Sugiran, pada saat kunjungan ke lokasi tersebut mengaku sangat senang dengan keinginan Disbun Riau untuk memiliki stasiun cuaca yang fokus pada sektor pertanian secara umum.
'Program yang akan diterapkan oleh Disbun Riau merupakan langkah konkret dalam mencegah kebakaran dan perubahan iklim di Riau saat ini. Untuk itu kita bangun stasiun seluas 40x50 meter di lahan milik Disbun Riau ini,' ujar Sugiran.
Direncanakan, stasiun ini akan beroperasi pada tahun 2015 dan tahap pembangunan akan dimulai pada tahun ini.***(rls)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar
-
Politik
DPRD Pekanbaru Desak Prioritas Drainase 2026

