Kemarau, Pengusaha Sagu di Meranti Kurangi Produksi
Senin, 10 Maret 2014 10:45 WIB
SELATPANJANG - Kemarau panjang bekepanjangan yang melanda Kepulauan Meranti ternyata berpengaruh pada produksi sagu. Akibat minimnya sumber air bersih yang digunakan untuk mengolah ampas sagu menjadi sagu.
Iwin Hs, (27), salah seorang pemilik kebun sekaligus bangsal (rumah produksi, red) sagu di wilayah Kabung, Sungai Suir, Tebingtinggi, mengatakan, air sangat menentukan dalam proses memproduksi sagu. Air digunakan untuk mencuci sekaligus memisahkan ampas sagu dengan sagu basah yang siap produksi.
"Semua bangsal sagu menggunakan air untuk produksi. Kalau musim kemarau seperti sekarang, mereka biasanya mengurangi jumlah produksi atau berhenti sama sekali," terangnya.
Ia sendiri sudah hampir satu bulan menghentikan operasional bangsal sagu, akibat mengeringnya sumber air di wilayah produksinya. Biasanya dalam satu minggu, Iwin bisa memperoduksi sagu basah hingga 10 ton.
Iwin Hs, (27), salah seorang pemilik kebun sekaligus bangsal (rumah produksi, red) sagu di wilayah Kabung, Sungai Suir, Tebingtinggi, mengatakan, air sangat menentukan dalam proses memproduksi sagu. Air digunakan untuk mencuci sekaligus memisahkan ampas sagu dengan sagu basah yang siap produksi.
"Semua bangsal sagu menggunakan air untuk produksi. Kalau musim kemarau seperti sekarang, mereka biasanya mengurangi jumlah produksi atau berhenti sama sekali," terangnya.
Ia sendiri sudah hampir satu bulan menghentikan operasional bangsal sagu, akibat mengeringnya sumber air di wilayah produksinya. Biasanya dalam satu minggu, Iwin bisa memperoduksi sagu basah hingga 10 ton.
"Memang awalnya kita mengurangi produksi karena terbatasnya air, tapi sekarang sudah berhenti total selama sebulan ini," ungkap Iwin.
Untuk memproduksi sagu, selama ini ia memanfaatkan kolam dan kanal yang sengaja digali di sekitar bangsal sagu miliknya.
Untuk memproduksi sagu, selama ini ia memanfaatkan kolam dan kanal yang sengaja digali di sekitar bangsal sagu miliknya.
"Sekarang sudah kering semua, bangsal tutup pekerja pulang. Mungkin pengusaha besar masih beroperasi, tapi pasti produksinya berkurang dari biasanya," tukas lelaki yang memiliki lebih kurang 4,5 hektar kebun sagu itu.***(rud)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Sosial
Hari Raya Waisak 2026 Jadi Bukti Kokohnya Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
-
Politik
Hewan Kurban Presiden di Dumai, Sapi Samson 950 Kilogram Jadi Kebanggaan Peternak Lokal
-
Sosial
Hari Kenaikan Yesus Kristus 2026, Menag Ajak Perkuat Harmoni dan Persatuan
-
Lingkungan
Bhabinkamtibmas Dorong Ketahanan Pangan Lewat Pekarangan Rumah di Dumai Kota
-
Ekbis
Hari Buruh Internasional 2026, Prabowo Resmikan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan

