Minim Modal Picu Produksi dan Kualitas TBS Sawit Rendah
Selasa, 08 Oktober 2013 17:24 WIB
foto lepas-ilustrasi
BAGAN SINEMBAH, RIAUHEADLINE.COM- Para petani kelapa sawit yang berada di daerah perbatasan antara Sumut-Riau mengeluh. Pasalnya, petani kelapa sawit tidak memiliki modal yang cukup untuk merawat pertanamannya secara maksimal. Akibatnya, produksi dan kualitas tandas buah segar (TBS) kelapa sawit yang dihasilkan rendah.
Demikian dikatakan salah satu pengamat ekonomi Bagan Batu, H Robin Sinaga kepada wartawan, Selasa (8/10) ketika di hubungi melalui ponselnya. "Seperti contoh misalnya, dari bibit yang dibeli asal-asalan, dan pemberian pupuk minim, serta pengolahan panen dan pasca panen, kemudian buruknya sarana transportasi melemahkan petani," kata Robin.
Padahal, kata dia, petani tahu bahwa bibit kelapa sawit asal-asalan yang produktivitasnya tidak maksimal. Namun, dikarenakan harga dan akses mendapatkannya lebih mudah dibandingkan bibit yang unggul, wajar jika bibit asalan banyak beredar dan ditanam petani.
"Jadinya kadar rendemen TBS petani hanya bisa sampai 18 persen. Padahal yang dimaui atau standarnya 24 peren ini juga dipengaruhi banyaknya petani yang memanen meskipun belum matang, umurnya belum cukup tapi sudah dipanen," kata Robin lagi.
Kemudian, lebih lanjut Robin menjelaskan, dikarenakan kurangnya pengetahuan, pemeliharaan tanaman seperti kebersihan dan kebutuhan pupuk juga kurang diperhatikan. Padahal, katanya, keduanya bisa memengaruhi produktivitasnya. "Pemeliharaan tanaman hanya dilakukan seadanya oleh petani," ungkapnya.
Selain itu, selama ini dari setelah dipanen di kebun, untuk sampai ke pabrik membutuhkan waktu lebih dari 24 jam setelah dipanen. Padahal, semakin lama TBS itu, kualitasnya akan menurun dan menyusut. "Dari sisi penyusutannya, bisa satu persen tapi kualitasnya juga pasti turun, harganya pun akan ikut turun," terangnya lagi.
Maka dari situlah menurutnya, gambaran tidak kuatnya petani di hadapan pabrik dalam kerja sama khususnya dalam memperjuangkan harga TBS yang menguntungkan. Meskipun harga sekarang ini lebih tinggi daripada 2 - 3 bulan sebelumnya, seperti yang berdasarkan hasil rapat Tim Penetapan Harga Dinas Perkebunan Riau pada pekan lalu Selasa (1/10) untuk harga TBS kelapa sawit periode 2-8 Oktober 2013 sebesar Rp21,94 per kilogram (khusus TBS umur >10 tahun) yaitu Rp1.693,31 sebelumnya Rp1.671,37 per kilogram.
Sementara untuk TBS usia 3 tahun dihargai Rp1.211,46 sebelumnya Rp1.195,60 per kg. Usia 4 tahun dihargai Rp1.353,64 sebelumnya Rp1.336,28 per kg. Umur 5 tahun dihargai Rp1.449,14 sebelumnya Rp1.430,31 per kg. Sedangkan usia 6 tahun tim menetapkan Rp1.490,84 sebelumnya Rp1.471,53 per kg.
Kalau untuk harga TBS sawit usia 7 tahun dipatok harga Rp1.548,02 sebelumnya Rp1.527,95 per kg. Sedangkan umur 8 tahun dihargai Rp1.596,22 sebelumnya Rp1.575,53 per kg. Kemudian, untuk umur 9 tahun sekarang dipatok harga Rp1.646,90 sebelumnya Rp1.625,60 per kg. Umur 10 tahun dihargai Rp1.693,31 sebelumnya Rp1.671,37 per kg, seharusnya masih bisa naik lagi.
Namun, karena hampir seluruh infrastruktur jalan dan transportasi kebun kelapa sawit petani sangat buruk, maka harga tidak bisa tinggi. "Ini masalah utama, distribusi TBS dari kebun petani sampai ke pabrik sangat sulit, sehingga TBS yang terlalu lama di jalan, keasamannya naik dan kualitasnya turun, bahkan ada juga yang 3x24 jam baru masuk ke pabrik," tutupnya.***(Rahim)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar
-
Politik
DPRD Pekanbaru Desak Prioritas Drainase 2026

