28 Persen Kelas Menengah Indonesia Ingin Wirausaha

    Minggu, 01 Maret 2015 18:52 WIB
    Ilustrasi orang-orang berbelanja. (REUTERS/Jonathan Alcorn)
    JAKARTA - Perusahaan finansial asal Hong Kong, AIA Group menyatakan lebih dari seperempat jumlah kelas menengah Indonesia memiliki keinginan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dengan memulai bisnisnya sendiri.

    Dalam laporan Survei Kelas Menengah Indonesia 2014 oleh AIA yang dikutip pada Minggu (1/3), disebutkan lebih dari satu dari empat orang (28 persen) menyatakan memulai bisnis sendiri sebagai salah satu sasaran utama dalam hidup mereka. Hal ini merupakan persentase tertinggi dibandingkan dengan pasar ASEAN lainnya yang disurvei.

    Di samping itu, 36 persen juga mempertimbangkan untuk memulai bisnis sebagai salah satu hal terpenting yang dapat mereka capai bersamaan dengan kariernya. Sementara, satu dari lima orang (20 persen) sudah memulai bisnis sendiri.

    Kendati ada keinginan untuk memulai bisnis sendiri, hampir sepertiga (32 persen) merasa bahwa memulai bisnis sendiri merupakan sasaran yang paling sulit untuk dicapai. Hanya berkeliling dunia yang dianggap sebagai sesuatu yang lebih sulit, sebagaimana diungkapkan oleh 55 persen responden.

    AIA menyebut, motivasi utama untuk memulai bisnis adalah untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar (36 persen) dan 18 persen responden berkeinginan untuk mewariskan bisnisnya ke anak-anak mereka.

    Di antara mereka yang ingin memulai bisnis sendiri, 63 persen mengatakan bahwa kurangnya modal merupakan penghambat utama. Sementara hampir seperempat (23 persen) responden masih belum memiliki gambaran tentang jenis bisnis yang ingin mereka mulai.

    Lebih lanjut, di sisi lain, survei tersebut juga menyatakan bahwa pendapatan kelas menengah di Indonesia merupakan salah satu yang terendah dibandingkan dengan negara-negara Asean lainnya. 

    Kelas menengah Indonesia memiliki pendapatan rumah tangga rata-rata sebesar Rp 4,27 juta per bulan (US$ 365 per bulan). Dibandingkan dengan kelas menengah di pasar ASEAN lainnya yang telah disurvei, pendapatan rata-rata kelas menengah di Indonesia relatif rendah.

    Survei AIA mencatat, pendapatan rumah tangga bulanan rata-rata kelas menengah Singapura merupakan yang tertinggi di Asean, mencapai US$ 6.492. Disusul Thailand yang mencapai US$ 2.128, Malaysia sebesar US$ 2.011, Filipina US$ 740, dan Vietnam US$ 627.

    Pendapatan Kelas Menengah Indonesia Terendah di Asean

    Dalam laporan Survei Kelas Menengah Indonesia 2014, kelas menengah Indonesia memiliki pendapatan rumah tangga rata-rata sebesar Rp 4,27 juta per bulan (US$ 365 per bulan). 

    Dibandingkan dengan kelas menengah di pasar ASEAN lainnya yang telah disurvei, pendapatan rata-rata kelas menengah di Indonesia relatif rendah.

    Survei AIA mencatat, pendapatan rumah tangga bulanan rata-rata kelas menengah Singapura merupakan yang tertinggi di Asean, mencapai US$ 6.492. Disusul Thailand yang mencapai US$ 2.128, Malaysia sebesar US$ 2.011, Filipina US$ 740, dan Vietnam US$ 627.

    Berdasarkan survei, 62 persen mengantongi ijazah perguruan tinggi, termasuk 89 persen dari mereka yang berusia di bawah 35 tahun. Kelas menengah Indonesia memiliki aset rata-rata sebesar Rp 46,2 juta. Ini merupakan nilai aset yang terendah di antara semua pasar ASEAN yang telah disurvei.

    Namun, meski pendapatan bulanan masih kalah dengan negara Asean yang lain, tetapi kelas menengah Indonesia cenderung optimistis menganggap bahwa kondisi kehidupan mereka akan meningkat, alih-alih memburuk dalam 12 bulan ke depan.

    Hal tersebut dapat diketahui sebagaimana yang diperlihatkan oleh skor Indeks Kelas Menengah AIA (Middle Class Index/MCI) sebesar 77,1. Adapun angka 50 mencerminkan keseimbangan ekspektasi akan peningkatan dan penurunan.

    Indonesia memiliki skor MCI tertinggi dibandingkan dengan seluruh pasar ASEAN lainnya yang telah disurvei, termasuk Vietnam (70,9), Filipina (70,6), Thailand (63,2), Malaysia (60,5) dan Singapura (55,6).

    Di samping itu, 91 persen responden memperkirakan bahwa kelas menengah di Indonesia akan tumbuh. Hal ini menunjukkan bahwa kelas menengah di Indonesia yakin perekonomian Indonesia akan meningkat.

    Kelas menengah Indonesia tetap positif sekalipun mereka menghadapi situasi hidup yang sulit, seperti kehilangan pekerjaan, kematian orang yang dicintai, utang yang bertambah atau berakhirnya suatu hubungan.

    Menurut survei tersebut, 6 persen orang yang menikah pada tahun lalu merasa sangat optimistis akan masa depan mereka, dengan skor MCI 86,0. Sementara orang yang berusia di bawah 35 tahun adalah yang paling optimistis, dengan skor MCI keseluruhan sebesar 80,3.

    (cnn/cnn)
    IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
    Tags
    Komentar