• Home
  • Hukrim
  • Dua Warga Dumai Tertangkap Ingin Gabung Kelompok Santoso

Dua Warga Dumai Tertangkap Ingin Gabung Kelompok Santoso

Senin, 02 Mei 2016 18:19 WIB
PEKANBARU - Dua warga Dumai, Ovan dan Dede ditangkap Satgas Tinombala karena ingin bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Pimpinan Santoso di Poso, Sulawesi Tengah.

Keduanya ditangkap karena janji orang Santoso untuk menjemputnya di Poso tidak ditepati. Keduanya bahkan sempat kelaparan karena bekal yang dikirim oleh jaringan Santoso habis begitu sampai di Poso.

Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Riau Kombes Djati Wiyoto dikonfirmasi membenarkan adanya warga Dumai, Riau yang diamankan karena ingin bergabung dengan Santoso.

"Namanya Ovan Fadlan dan Dede Suwaryadi. Mereka ini belum sempat bergabung tapi sudah sampai di Poso dan tertangkap oleh Satgas Tinombala," ujar Jati, Senin (2/5/2016) di Mapolda Riau.

Djati menyebutkan, yang pertama berangkat dari Dumai menuju Poso adalah Ovan pada Minggu (1/5/2016). Selanjutnya disusul Dede dengan waktu yang berbeda, tapi harinya sama.

Menurut Djati, Ovan diduga merekrut Dede untuk gabung dengan kelompok Santoso. Hal ini berdasarkan keterangan dari keluarga Dede yang sudah melapor ke sebuah Polsek di Kota Dumai dan menyebut Dede menghilang.

"Setelah mendapat laporan, kita telusuri dan ditanya kepada keluarganya tentang siapa saja teman Dede ini. Dari pihak keluarga menyebut bahwa Dede bergaul dengan Ovan. Sejak berteman dengan Ovan inilah sikap Dede berubah," urai Jati.

Kabar tertangkapnya Ovan terlebih dahulu membuat pihak kepolisian semakin yakin bahwa hilangnya Dede ada kaitanya dengan Ovan.

"Setelah dicek, ternyata benar keduanya tertangkap," kata Djati.

Berdasarkan pemeriksan Polri di Poso, Dede begitu tiba tidak langsung dijemput oleh kelompok Santoso seperti janji awal. Dede bahkan mengaku kelaparan karena kehabisan perbekalan.

Selama di Poso dia hanya dihubungi melalui telepon oleh orang suruhan Santoso. Karena kelaparan, Dede kemudian dikirim uang oleh orang suruhan Santoso dua kali. Pertama Rp1 juta, kedua Rp500 ribu.

Sampai saat ini kedua orang tersebut, tambah, DJati masih menjalani pemeriksaan intensif. Ini untuk mendalami siapa saja yang telah mereka rekrut dan apakah ada jaringan Sontoso di Riau.

Jati menghimbau kepada masyarakat agar berhati hati karena jaringan Santoso merekrut anggota baru melalui media sosial.

"Ini perlu diwaspadai, kita harus bijak dan hati-hati dalam menggunakan media sosial dan internet. Karena jaringan ini menerapkan pola perekrutan yang demikian," pungkas Djati.

(rdk/frc)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Teroris
Komentar