Pembunuh Holly lebih mirip “Detektif Swasta”
Jumat, 11 Oktober 2013 13:18 WIB
JAKARTA, RIAUHEADLINE.COM- Aksi pembunuhan Holly di Apartemen Kalibata, dipastikan bukan kelompok pembunuh bayaran. Pola kerjanya, lebih mendekati ciri “detektif swasta.” Ini tercermin dari pengintaian bermarkas di tower yang sama sejak Agustus 2013.
“Kelompok pelaku sudah menyewa kamar sejak Agustus untuk enam bulan ke depan di lantai 6 Tower Ebony, dengan tugas mengawasi dari dekat,” kata Mulyana W Kusumah, kriminolog Universitas Indonesia (UI), di Jakarta Jumat (11/10).
Pengintaian dimaksudkan sebagai pengenalan kehidupan sehari-hari korban, termasuk relasi sosialnya. Ada pun penyiksaan berakibat kematian Holly, diyakini merupakan order susulan dari otak kejahatan. Order pertama adalah pengintaian.
Keterangan Polisi yang menyatakan korban korban diikat oleh tali charger HP, menutu Mulyana, menunjukkan adanya fakta korban dicekik dengan ikatan (ligature strangulation).
Mengikat korban, seringkali digunakan dalam kekerasan untuk memaksa korban memberikan jawaban atau keterangan yang dikehendaki pelaku.
Hal ini diperkuat oleh fakta memar pada punggung korban, diperkirakan akibat dipukul berulang-ulang dengan besi berukuran 50 cm yang ditemukan di TKP.
Mulyana mengatakan, penyiksaan ini kemungkinan besar dilakukan utk memburu pengakuan atau memaksa korban memberikan keterangan tertentu.
Situasi panik yang terjadi pada para pelaku saat keamanan apartemen datang ke TKP, sehingga El Rizki tewas waktu melompat untuk melarikan diri, memperlihatkan kemungkinan besar pelaku bukan pembunuh bayaran profesional.
Jika peristiwa kematian Holly dilakukan pembunuh bayaran profesional dan sejak awal sudah ditentukan target menghilangkan nyawa korban, kelompok pelaku akan bekerja efisien, tidak memerlukan modus operandi rumit yang memakan waktu dan risiko.
Sedangkan kelompok pengintau yang mulai dengan penyewaan kamar apartemen sebab dengan demikian cukup banyak meninggalkan jejak. Ini semakin menunjukkan bahwa kelompok pelaku bukan pembunuh bayaran.
“Jajaran Polda Metro Jaya yang sejauh ini sudah berhasil menemukan sejumlah fakta dan bukti serta menangkap dua tersangka pelaku, diharapkan mengungkap aktor perencana kejahatan,” kata Mulyana.
Polisi harus menjelaskan siapa perancang dan pembayar kelompok pelaku. Otak kejahatan diyakini memiliki hubungan sosial yang relatif dekat secara emosional, mengingat cara kematian korban.***(Mulyana/rls)
“Kelompok pelaku sudah menyewa kamar sejak Agustus untuk enam bulan ke depan di lantai 6 Tower Ebony, dengan tugas mengawasi dari dekat,” kata Mulyana W Kusumah, kriminolog Universitas Indonesia (UI), di Jakarta Jumat (11/10).
Pengintaian dimaksudkan sebagai pengenalan kehidupan sehari-hari korban, termasuk relasi sosialnya. Ada pun penyiksaan berakibat kematian Holly, diyakini merupakan order susulan dari otak kejahatan. Order pertama adalah pengintaian.
Keterangan Polisi yang menyatakan korban korban diikat oleh tali charger HP, menutu Mulyana, menunjukkan adanya fakta korban dicekik dengan ikatan (ligature strangulation).
Mengikat korban, seringkali digunakan dalam kekerasan untuk memaksa korban memberikan jawaban atau keterangan yang dikehendaki pelaku.
Hal ini diperkuat oleh fakta memar pada punggung korban, diperkirakan akibat dipukul berulang-ulang dengan besi berukuran 50 cm yang ditemukan di TKP.
Mulyana mengatakan, penyiksaan ini kemungkinan besar dilakukan utk memburu pengakuan atau memaksa korban memberikan keterangan tertentu.
Situasi panik yang terjadi pada para pelaku saat keamanan apartemen datang ke TKP, sehingga El Rizki tewas waktu melompat untuk melarikan diri, memperlihatkan kemungkinan besar pelaku bukan pembunuh bayaran profesional.
Jika peristiwa kematian Holly dilakukan pembunuh bayaran profesional dan sejak awal sudah ditentukan target menghilangkan nyawa korban, kelompok pelaku akan bekerja efisien, tidak memerlukan modus operandi rumit yang memakan waktu dan risiko.
Sedangkan kelompok pengintau yang mulai dengan penyewaan kamar apartemen sebab dengan demikian cukup banyak meninggalkan jejak. Ini semakin menunjukkan bahwa kelompok pelaku bukan pembunuh bayaran.
“Jajaran Polda Metro Jaya yang sejauh ini sudah berhasil menemukan sejumlah fakta dan bukti serta menangkap dua tersangka pelaku, diharapkan mengungkap aktor perencana kejahatan,” kata Mulyana.
Polisi harus menjelaskan siapa perancang dan pembayar kelompok pelaku. Otak kejahatan diyakini memiliki hubungan sosial yang relatif dekat secara emosional, mengingat cara kematian korban.***(Mulyana/rls)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Ekbis
Pergerakan Harga Minyak Sawit Dunia Mengalami Fluktuasi pada Awal Februari 2026
-
Lingkungan
Harimau Sumatera Masuk Permukiman Warga Mempura, Masyarakat Diminta Waspada
-
Ekbis
Produksi Padi Riau Naik 12,7 Persen, Targetkan Ketahanan Pangan Hingga 2029
-
Lingkungan
Riau Dorong Swasembada Pangan Nasional, Petani Milenial Jadi Kunci Modernisasi Pertanian
-
Hukrim
Polisi Kehutanan Gakkum Riau Usut Jaringan Pembunuh Gajah Sumatera di Blok Ukui
-
Sosial
Penataan Pedagang Dumai di Jalan Sultan Syarif Kasim, Kota Jadi Destinasi Kuliner

