• Home
  • Lingkungan
  • Gelombang Tinggi Bikin Masyarakat Pesisir Meranti Takut

Gelombang Tinggi Bikin Masyarakat Pesisir Meranti Takut

Rabu, 22 Oktober 2014 18:15 WIB

RANGSANG PESISIR - Musim angin utara di Selat Malaka mengancam ketahanan pesisir pantai Pulau Rangsang, Pulau Merbau dan Pulau Padang di Kabupaten Kepulauan Meranti. Gelombang tinggi yang disebabkan hembusan angin kencang itu mengakibatkan abrasi.
 
Ismail , salah seorang warga Desa Telesung, Kecamatan Rangsang Pesisir, Rabu (22/10) mengatakan, setiap tahun saat musim angin utara,  pulau yang berbatasan dengan selat malaka ini  menjadi sasaran gelombang tinggi yang bergerak dari arah selatan.
 
"Dahulu pulau-pulau yang berbatasan selat malaka ini Luas namun sekarang  pulau ini semakin berkurang setiap tahunnya akibat gerusan air laut. Abrasi disebabkan karena tidak adanya pohon perisai pulau seperti pohon bakau, pohon api-api dan sejenisnya di sebagian besar pesisir pantai," katanya.
 
Dikatakannya, pulau tempat tinggalnya ini seakan jauh dari perhatian pemerintah, padahal menurutnya, Pulau Rangsang adalah salah satu Pulau terluar indonesia di Kabupaten Kepulauan Meranti, yang langsung berbatasan dengan perairan negara tetangga Malaysia dan Singapura.
 
"Apa yang terjadi juga disebabkan oleh minimnya percepatan pembangunan dan lambatnya sentuhan program pemerintah di daerah Pesisir. Saya kira wajar jika masyarakat meminta perhatian lebih dari Pemerintah untuk memperdulikan daerah pesisir terutama menyangkut pencegahan abrasi," ucapnya.
 
Menurutnya, tingkat abrasi yang terjadi di pesisir pantai Pulau Rangsang masih diluar perhatian ekstra pemerintah, gerusan abrasi per tahun bisa mencapai 15 meter, maka seharusnya sudah ditetapkan sebagai daerah awas abrasi dan sudah ada penanggulangan serius oleh pemerintah.
 
"Abrasi Pulau Rangsang hanya bisa diperlambat dengan pembangunan turap batu jeronjong. Karena jika hanya dengan penanaman mangrove tidak memungkinkan lagi untuk dapat menangkis gelombang tinggi. Apalagi struktur tanah disini tidak semuanya tanah pasir, namun sebagian besar tanah gambut," jelasnya.
 
Ditambahkannya, sudah banyak harta masyarakat yang amblas bersamaan dengan abrasi pantai, seperti rumah, lahan pertanian dan perkebunan, infrastruktur jalan dan jembatan juga ikut hanyut. Hanya korban jiwa saja yang belum pernah terjadi.
 
"Kami tidak mau lagi kerugian dalam bentuk apapun terjadi akibat dari dampak abrasi ini, kami berharap suatu saat nanti solusi pencegahan secara nyata dilakukan pemerintah agar bencana abrasi tidak lagi menghantui masyarakat di Pulaun Rangsang," harapnya. (Roy)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Lingkungan
Komentar