• Home
  • Lingkungan
  • Kadishut Meranti Imbau Masyarakat Waspada Kebakaran Lahan

Kadishut Meranti Imbau Masyarakat Waspada Kebakaran Lahan

Jumat, 07 Februari 2014 12:18 WIB

SELATPANJANG - Musim cuaca panas  yang disertai dengan tiupan angin kencang menjadi salah satu penyebab meluasnya kebakaran lahan dan kebun di berbagai desa di Kabupaten Kepulauan Meranti. 

Cuaca ektrim ini juga menyebabkan stok debit air tanah turut mengering, sehingga menyebabkan lapisan gambut rentan dan mudah terbakar. Akibatnya, kebakaran lahan yang terjadi semakin sulit untuk dipadamkan. 

Untuk itu Kepala Dinas Kehuatanan dan Perkebunan Kabupaten Kepulauan Meranti Ir Makmun Murod mengimbau agar masyarakat waspada terhadap kebakaran lahan. Hal ini  terkait meluasnya areal lahan yang terbakar di berbagai desa di Kabupaten Kepulauan Meranti. 

"Kalau soal upaya pemadaman, masyarakat dan tim pemadam kebakaran lahan Dishut sudah berupaya secara maksimal. Hanya saja, situasi dan kondisi saat ini memang berat. Satu-satunya langkah yang paing aman menge ndalikan soal kebakaran, meningkatkan kewaspadaan untuk tidak bermain-main dengan api," ujar Murod.

Menurutnya, saat ini pihaknya terus melakukan pemantauan di sejumlah titik lokasi kebakaran kemaren. Meskipun api sudah padam, dengan kondisi cuaca ekstrim seperti ini bisa saja kepulan asap sisa kebakaran kemaren hidup ke,bali. 

Apalagi sampai hari ini, hujan lebat juga belum turun di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti. Kondisi ini juga dihadapkan dengan kondisi ketebalan laham gambut di Meranti yang cukup dalam dan kering. 

Situasi ini, tentunya menjadi salah satu penyebab rentanya terjadi kebakaran lahan dalam waktu yang lama. Tebalnya lapisan gambut menyebabkan api terus bergerak dibawah, meskipun kobaran api dbagian atas sudah mati total. 

"Hal ini yang menyebabkan kita untuk tetap selalu siaga. Dan kita juga menghimbau agar masyarakat tidak melakukan pembukaan maupun pengolahan lahan dengan cara pembakaran. Apapun alasannya, sangat rentan untuk memicu terjadinya kebakaran lahan dan meluas. Kalau sudah terjadi, api akan sangat sulit untuk dipadamkan," ujar Kadishut Meranti.

Menyinggung soal total luas lahan yang terbakar di seluruh Meranti, Murod mengaku belum dapat menyebutkan secara detail disetiap desanya. Saat ini, pihaknya masih terus melakukan penanganan dilapangan. Dan proses verifikasi luas lahan yang terbakar, juga masih dihitung. 

Soalnya, lahan yang terbakar tidak satu hamparan melainkan terpencar di berbagai desa di berbagai pulau. Dan kemungkinan meluas atau bertambah luas lahan yang terbakar, juga bisa saja terjadi. Apalagi sejumlah titik api di eks lokasi kebakaran kemaren masih aktif menghasilkan kepulan asap. 

"Soal luas lahan yang terbakar, kita masih menunggu validasi data terahir dari lapangan. Tim kita sedang dilapangan melakukan pendataan dan peantauan secara rutin. Mudah-mudahan, tidak ada lagi titik api baru di Meranti," ungkapnya.

Mengenai soal berapa total kerugian, jiga masih dihitung. Pasalnya, hamparan kebun yang terbakar  beragam jenis dan luasnya. Jelas, nilai nominalnya berbeda-beda, jadi harus ada data yang benar-benar valid dululah.

Berdasarkan data terahir yang didapat Haluan Kepri, dari Pemda Kecamatan Rangsang Pesisir luas lahan yang terbakar didesa Kayu Ara 592 hektar, 40 hektar diantaranya kebun sagu dan sisanya kebun karet. 

Sesangkan di Rangsang, desa Gemalasari 100 hektar, dan di Tebing Tinggi Timur di desa kepau baru total luas kebun yang terbakar mencapai 1200 hektar, yang terdiri dari 200 hektar kebun sagu PT NSP dan 1000 hektar kebun sagu milik masyarakat. Sedangkan total kerugian akibat kebakaran di Tebing Tinggi Timur mencapai 43 milyar rupiah.***(fan/hkc)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Lingkungan
Komentar