- Home
- Lingkungan
- Kemarau Panjang, Masyarakat Kepulauan Meranti Dambakan Air Bersih
Kemarau Panjang, Masyarakat Kepulauan Meranti Dambakan Air Bersih
Sabtu, 08 Maret 2014 15:03 WIB
SELATPANJANG - Kemarau panjang yang menerpa Kabupaten Kepulauan Meranti, membuat warga resah dan mendambakan air bersih. Sejumlah sumur masyarakat di Kecamatan Tebing Tinggi Barat, terutama di Kota Alai sudah dilanda kekeringan.
Kondisi ini turut diperparah lagi dengan sumur bor yang dibangun pemerintahan macet, tidak bisa mengeluarkan air. Akibatnya, upaya masyarakat kota Alai Tebing Tinggi Barat untuk mendapatkan air bersih yang dianggap layak tertumpu pada sumur bor yang dibangun melalui program PNPM Mandiri Pedesaan yang terletak di di Desa Alai Laut.
Hal ini jelas sangat memperihatinkan, satu buah sumur dimanfaatkan ratusan kepala keluarga. Masyarakat yang ingin mendapatkan air, terpaksa harus sabar mengantri.
"Sebenarnya, Pemkab Meranti sudah mengantisipasi dengan membangun 7 sumur bor, untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Alai. Namun sayang, 7 sumur bor tersebut mampet tak mampu mengeluarkan air dari dalam perut bumi," ujarnya warga.
Permasalahannya bukan karena mesinnya rusak, kemungkinan karena kedalamannya masih kurang, jadi ada material tanah yang menyumbat saluran air tersebut.
"Beruntung kita masih punya sumur bor PMPN Mandiri ini. Satu sumur bor inilah yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan mandi dan mencuci,” ungkap Erdison salah seorang warga Kecamatan Tebing Tinggi Barat.
Sementara untuk minum, lanjut Erdison masyarakat terpaksa membeli air gallon seharga Rp5 ribu. Persediaan air minum warga yang pada umumnya bersumber dari curah hujan yang ditampung dalam bak-bak, ataupun drum bekas sudah kering lama.
Soalnya, kapasitas isi bak-bak air ini sangat terbatas. Sementara, sudah lebih dua bulan setengah Meranti dilanda kemarau dan belum ada sekalipun turun hujan.
Untuk itu, satu-satunya langkah untuk mendapatkan air bersih untuk keperluan memasak dan minum, terpaksa membeli air gallon. Kondisi ini jelas sangat memberatkan warga. Terutama bagi warga yang kondisi ekonominya pas-pasan.
"Bayangkan saja, dalam satu minggu untuk sebuah keluarga kecil (tiga jiwa red) minimal 3-5 galon. Dengan demikian, mau tidak mau akan menambah beban biaya pengeluaran," katanya.
Untuk air minum dan memask, minimal harus merogoh kocek sebesar Rp. 100.000/bulan. Kemarin kita sudah mendapatkan bantuan dari provinsi berupa penyulingan air bersih. Bantuan ini memang sempat dimanfaatkan dan sangat membantu masyarakat.
"Namun sayang, beberapa waktu yang lalu mesinnya rusak, kipasnya tidak bisa berputar sehingga tidak bisa memproduksi air bersih yang layak pakai. Karena tak punya alternative lain, terpaksa kita membeli air gallon untuk keperluan minum dan memasak” ucapnya.
Ditempat terpisah, Camat Tebing Tinggi Barat Mulyadi, mengatakan sumur-sumur warga disemua desa sekarang ini sudah mongering akibat tak turun hujan.
Untuk mendapatkan air bersih yang dianggap layak, warga memanfaatkan air sumur bor. Namun tidak semua sumur bor yang ada, mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga, termasuk di Alai sendiri.
“Dari berbagai aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui para kepala desa, kita memang sedang dilanda krisis air bersih. Masyarakat harus membeli air, hanya untuk minum dan memasak. Kita sangat prihatin pada masyarakat yang kesejejahteraanta rendah, jelas ini menjadi beban tambahan yang menyulitkan," pungkasnya.***(hkc-fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar
-
Politik
DPRD Pekanbaru Desak Prioritas Drainase 2026

