- Home
- Lingkungan
- Limbah Cair Sagu Dibuang ke Sungai di Meranti
Limbah Cair Sagu Dibuang ke Sungai di Meranti
Selasa, 10 Maret 2015 19:07 WIB
MERANTI - Sejumlah kilang-kilang sagu yang beroperasi di Kepulauan Meranti disinyalir masih membuang limbah cair hasil olahan langsung ke aliran sungai. Akibatnya terjadi pencemaran dan kerusakan ekosistem yang menurunkan hasil tangkap masyarakat nelayan.
Hasil pantauan di lapangan, salah satu kilang sagu di Dusun Makam Desa Tanjung Darultakzim yang tidak jauh dari pelabuhan penyeberangan menuju Desa Lalangtanjung Kecamatan Tebingtinggi Barat, terlihat masih terus membuang limbah cair hasil olahan mereka langsung ke anak sungai yang lalu mengalir ke sungai utama.
Tidak heran air sungai di sekitar terlihat keruh, kotor dan berbuih serta mengeluarkan bau busuk yang menyengat. "Orang saja tidak tahan mencium baunya, apalagi ikan," kata Imran, salah seorang warga yang ditemui di pelabuhan penyeberangan Desa Tanjung Darultakzim pekan lalu.
Ia mengakui di sepanjang aliran sungai yang melewati tiga kecamatan itu, Tebingtinggi, Tebingtinggi Timur dan Tebingtinggi Barat, terdapat puluhan kilang sagu ukuran kecil dan besar.
"Kalau semua mereka membuang limbah ke sungai, wajar-wajar saja kalau tidak ada lagi ikan di sungai," ujarnya. Hal serupa juga diakui oleh Ben, salah seorang nelayan di Sungai Suir, persisnya di Desa Banglas Kecamatan Tebingtinggi.
Menurutnya saat ini hasil tangkapan dia bersama ayahnya jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Dia juga tidak menampik kalau kurangnya biota laut akibat tingginya kadar racun di dalam air.
"Kami (para nelayan) percaya kalau perginya ikan-ikan karena sungai ini sudah tercemar limbah sagu," tuturnya.
Lebih jelas ia menceritakan, pada saat pasang, air laut yang meninggi akan memenuhi semua anak sungai yang telah tercemar dengan limbah cair sagu. Kemudian air yang sudah bercampur racun ini mengalir kembali ke sungai utama sehingga merusak berbagai biota laut.
"Hal ini berulang terus menerus, setiap hari. Toke sagu makin kaya, nelayan yang sengsara," ungkap lelaki yang menggantungkan nafkahnya sebagai nelayan ini.
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kepulauan Meranti, Irmansyah, saat dikonfirmasi wartwan menerangkan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan mengimbau seluruh pemilik kilang sagu untuk menetralkan limbah industri mereka di kolam-kolam intalasi pengolahan air limbah (Ipal).
"Jadi tidak dibuang langsung ke sungai atau ke laut, karena ini berdampak pada pencemaran akibat zat kimia dan keasaman yang tinggi," kata Irman.
Untuk itu pertengahan bulan ini pihaknya akan kembali memanggil para pemilik dan pengelola kilang sagu yang diduga masih membandel. "Jika memang kolam Ipal mereka penuh, kita minta mereka segera mengurasnya," ungkap Kepala BLH Meranti itu.
Selaun itu untuk solusi jangka panjang, dia menuturkan telah melakukan kerjasama dengan pihak Badan Pangkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk memanfaatkan limbah padat maupun cair dari industri sagu untuk diolah menjadi bio etanol dan bio massa yang memiliki nilai ekonomis.
Mengingat cukup besar jumlah masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada industri komoditas sagu ini. "Jadi saat ini kita sedang mengkajinya untuk pemanfaatan yang tepat. Sehingga menjadi solusi jangka panjang terhadap permasalahan itu," kata Irmansyah.
(fan/fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Lingkungan
Minyak CPO Diduga Milik IPB Tumpah ke Laut Dumai
-
Ekbis
Limbah Cair Sawit Berpotensi Mereduksi Emisi Gas Metana
-
Hukrim
Riuhnya Pemasangan Plang Stop Operasi Sementara PKS SIPP di Mandau
-
Lingkungan
Penyimpangan Pengelolaan Limbah Pertamina Dumai Harus Ditindaklanjuti
-
Lingkungan
Pertamina Dumai Lakukan Pengelolaan Limbah Masih Manual?
-
Sosial
Koperasi Hang Tuah Meranti Bakal Gelar Seminar Ekonomi Kerakyatan

