• Home
  • Nasional
  • Kelas Pekerja Lebih Bijaksana Ketimbang Kelas Menengah

Kelas Pekerja Lebih Bijaksana Ketimbang Kelas Menengah

Hadi Pramono Sabtu, 23 Desember 2017 11:46 WIB
Ilustrasi buruh sebagai perwakilan masyarakat kelas pekerja
JAKARTA - Kelas menengah memang lebih pintar. Namun kelas pekerja (buruh) mungkin lebih bijaksana dalam hal kompromi, saat menghadapi masalah interpersonal.

Kesimpulan ini mengemuka lewat sebuah studi para periset dari University of Waterloo di Ontario, Kanada.

Ada paradoks nyata dalam kehidupan modern: Masyarakat secara keseluruhan semakin pintar, namun tidak lagi memikirkan bagaimana cara menyesuaikan diri. 

"Bagaimana mungkin kita memiliki konflik sama banyaknya--atau malah lebih--dengan sebelumnya?" Tanya psikolog sosial Igor Grossmann di University of Waterloo.

Jawabannya menurut Grossman adalah karena kecerdasan semata tak dapat mengurangi konflik. Kebijaksanaan lah kuncinya.

Kebijaksanaan yang dimaksud termasuk kemampuan untuk mempertimbangkan perspektif orang lain, juga adanya niat untuk kompromi.

Nah, sikap bijak ini rupanya merupakan sesuatu yang tumbuh secara lebih alami bagi mereka yang dibesarkan dalam kondisi tak berada, layaknya kelas pekerja.

Sementara kelas sosial yang lebih tinggi membuka kesempatan lebih besar untuk mengejar pengetahuan dan pendidikan, orang-orang kelas pekerja menunjukkan sikap lebih bijak saat berhadapan dengan orang lain.

Studi ini mendefinisikan kebijaksanaan sebagai kemampuan untuk memiliki pikiran terbuka, rendah hati secara intelektual, dan mengintegrasikan perspektif yang berbeda mengenai isu-isu yang beredar di dunia sosial.

Karena para peneliti membandingkan kelas sosial dan kearifan yang terkait, mereka menemukan bahwa daerah dan individu yang lebih makmur, serta situasi yang mencerminkan kedudukan sosial yang lebih tinggi, berkaitan dengan kemampuan berkompromi secara bijak yang rendah.

"Tidak mengherankan bila kita mempertimbangkan penekanan budaya kita pada kecerdasan seperti IQ, kompetensi untuk menyelesaikan tugas secara mandiri dan fokus pada diri sendiri sebagai lawan dari pertimbangan orang lain, untuk meraih kesuksesan," kata Grossmann.

"Seiring kita terus fokus sebagai masyarakat yang memiliki kebebasan dan hak di kalangan kelas menengah, kita juga secara tidak sengaja mengikis kebijaksanaan dan penalaran yang kemudian menciptakan populasi lebih egois."

Menggunakan survei berskala besar dan studi laboratorium, Grossmann dan rekan penulis Justin Brienza--seorang kandidat Ph.D. di Waterloo pada saat penelitian berlangsung--mampu membangun temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa individu dengan pendapatan rendah sering kali lebih peka terhadap lingkungan mereka.

Sebagai contoh, individu berpenghasilan rendah--yang sering didorong oleh masalah ekonomi--lebih cenderung mempertimbangkan dampak keputusan mereka terhadap orang-orang di sekitar dan dengan siapa mereka memiliki hubungan yang saling bergantung.

Secara khusus, sifat keterbukaan dan integrasi perspektif yang berbeda diperlukan untuk berkoordinasi dengan orang lain dan berbagi sumber daya.

Studi kelas sosial saat ini dan bagaimana kaitannya dengan penalaran yang bijaksana, sangat spesifik untuk konflik interpersonal. Serta tidak menyarankan perbedaan kelas dalam area penalaran antar kelompok, seperti dalam perdebatan sosial atau politik.

Berbicara pada Science (20/12), Grossman mengatakan bahwa dia ingin memperluas studi ini untuk menjangkau orang-orang miskin dan orang-orang super kaya.

"Saya tidak akan terkejut jika hasilnya bahkan lebih terasa di kalangan yang sangat kaya, tapi kami belum punya data," katanya. "Saya ingin mewawancarai Donald Trump."

Para psikolog menggunakan dua metode studi yang berbeda untuk menguji hipotesis mereka.

Yang pertama adalah survei daring yang melibatkan 2.145 orang melalui situs pengumpul dana Amazon, Mechanical Turk. Para peserta diminta untuk mengingat kembali pengalaman hidup mereka baru-baru ini, dan meminta untuk mempertimbangkan resolusi konflik tersebut.

Informasi demografis dari subjek hanya diperkirakan berdasarkan alamat IP, dan kemakmuran relatifnya berdasarkan keadaan yang diikuti oleh peserta.

Yang kedua memilih cara lebih langsung. Kelompok yang terdiri dari 199 peserta dari Washtenaw County di Michigan, Amerika Serikat, dipilih melalui buku telepon, dan dihubungi dengan surat undangan pribadi.

Mereka merupakan peserta yang pada akhirnya setuju untuk datang ke laboratorium untuk mengikuti serangkaian tes. Peserta ini mengonfirmasi informasi demografis mereka dan kemudian menyelesaikan tes kognisi dasar--juga sebuah tes penalaran.

Dalam penelitian, populasi yang lebih kaya cenderung memberikan performa lebih baik dalam menjawab pertanyaan yang memiliki jawaban benar dan salah.

Namun, penalaran abstrak yang ada dalam sikap "bijak" lebih mudah ditunjukkan oleh orang-orang yang berasal dari latar belakang masyarakat kelas miskin atau kelas pekerja.

Temuan penelitian ini dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B.

Sumber: beritagar.id
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Naker Asing
Komentar