• Home
  • Sosial
  • Kematian Ibu dan Bayi Masih Tinggi di Wilayah Kepulauan Meranti

Kematian Ibu dan Bayi Masih Tinggi di Wilayah Kepulauan Meranti

Jumat, 24 Januari 2014 16:05 WIB

SELATPANJANG - Upaya Pemkab Kepulauan Meranti untuk menekan angka kematian bayi dan ibu melahirkan belum menemukan hasil maksimal. Sepanjang 2013, terdapat tujuh kasus kematian bayi dan ibu melahirkan di kecamatan Rangsang Pesisir.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti dr. Irwan Suandi melalui Kepala Puskesmas Kedaburapat Kecamatan Rangsang Pesisir dr.Alam Piliang mengatakan, pihaknya sudah berupaya maksimal untuk melakukan berbagai upaya soisalisasi untuk menekan angka kamatian bayi dan ibu melahirkan. 

"Faktanya, sepanjang 2013 paling tidak terjadi 4 kasus kematian ibu melahirkan dan 3 kematian bayi. Dari kasus-kasus tersebut, rata-rata disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan control ke bidan di polindes, Puskesmas ataupun ke Posyandu," katanya, Jumat (24/1/14).

Dijelaskan dia, beberapa kasus ibu melahirkan yang meninggal, kondisinya sudah sulit akibat tak rutin control. Akibatnya, berbagai upaya medis untuk menolong gagal karena kondisinya sudah tak bisa di rawat lagi.

"Tingginya kasus kematian bayi juga bermuara dari persoalan rendahnya partisipasi masyarakat untuk datang memeriksakan bayinya ke Posyandu. Padahal, setiap ada kegiatan Posyandu, petugas kader sudah mengingatkan pada para ibu-ibu," jelasnya.

Namun demikian, akibat rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat, menyebabkan kegiatan Posyandu diabaikan dan diangap tak penting. 

"Disinilah letak persoalannya, rendahnya partisipasi masyarakat dalam mengontrol kesehatannya, menjadi penyebab masih tingginya angka kematian bayi dan ibu-ibu melahirkan,” beber Pimpinan Puskesmas Kedaburapat tersebut.

Selain persoalan rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat, dr. Alam juga mengatakan terjadinya berbagai kasus kematian ibu melahirkan dan bayi meninggal juga akibat keterlambatan penanganan tim medis yang bermuara dari sulitnya sarana transportasi. 

Kondisi ini, tentunya sangat tidak nyaman bagi pasien. Namun karena tidak punya pilihan lain, mau tidak mau terpaksa harus dilakukan. “Kalau soal konsistensi tim medis, kita siap 24 jam menjalankan tugas. 

"Namun, dengan kondisi infrastruktur yang serba sulit ini, terus terang inilah yang menjadi kendalanya. Apalagi kalau curah hujan tinggi, jalanan menjadi licin dan tidak bisa dilalui dengan kendaraan,” imbuh dr. Alam Piliang.

Ditempat terpisah Camat Rangsang Pesisir Idris Sampul mengakui buruknya kondisi jalan sangat berpengaruh terhadap upaya masyarakat Maupun petugas medis memberikan layanan terbaik. Apalagi dengan jangkauan wilayah kerja Puskesmas Kedaburapat yang harus sampai ke Tenggayun.

Dengan jarak tempuh lebih dari 25 kilo meter dengan kondisi jalan yang berat, jelas sangat menyulitkan semua pihak. Mau tidak mau, pembangunan infrastruktur jalan memang harus menjadi prioritas. 

"Kalau perlu, pembangunan yang lainnya pending dulu. Utamakan pembangunan akses jalan porosnya. Kalau ini bisa terlaksana, upaya masyarakat untuk mengakses pusat pelayanan publik, ataupun fasum akan semakin mudah dijangkau," pungkasnya.***(fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Sosial
Komentar