Program Kesehatan Bawa Dumai Bebas Gizi Buruk
Sabtu, 14 Juni 2014 15:01 WIB
DUMAI - Pemerintah Kota Dumai telah berhasil menjalankan program kesehatan, buktinya Kota Dumai pada tahun 2015 dinyatakan telah bebas dari gizi buruk. Hal ini secara langsung disampaikan Walikota Dumai Khairul Anwar, kemarin.
Berhasilnya Kota Dumai terhindar dari gizi buruk ini karena berkat peran aktif dari kader Posyandu. Kader Posyandu merupakan salah satu unsur penting dari keberhasilan pemerintah dalam menerapkan program kesehatan selama ini.
"Alhamdulillah dari laporan yang saya terima, Kota Dumai saat ini terbebas dari kasus gizi buruk. Ini berkat peran aktif kita semua terutama pelayan kesehatan khususnya kader Posyandu," ungkap Khairul Anwar.
Peran serta Kader Posyandu, lanjutnya, sejalan visi Dumai Sehat 2015. Dimana untuk mewujudkan Visi tersebut Pemerintah memiliki program Sehat Masyarakat, programnya dijalankan Pemerintah melalui Dinas Kesehatan Kota Dumai.
Menurut Khairul, pelatihan bagi kader Posyandu di Dumai merupakan salah satu komitmen pemerintah untuk memberikan tambahan ilmu pengetahuan pada kader Posyandu. Ini penting dilakukan demi terwujudnya kader Posyandu yang profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan.
"Kader Posyandu sebagai salah satu garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat terutama kepada ibu hamil dan Balita. Untuk itu, peran itu lebih ditingkatkan lagi demi terwujudnya visi Dumai Sehat 2015," harapnya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Dumai, Marjoko Santoso mengatakan bahwa sejak 2011-2013 tidak ditemukan kasus gizi buruk untuk Kota Dumai. Status gizi sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum.
"Karena merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung dan juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan individual. Terlepas dari itu, semua berkat peran semua kalangan yang membidangan masalah kesehatanj," ungkap Marjoko.
Gizi buruk memang tidak ada, katanya, yang ada kasus balita dengan gizi kurang. Hal ini disebabkan oleh tingginya mobilitas warga pendatang dari luar Kota Dumai. Dimana warga pendatang ini pada umumnya masih kurang Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Selain itu, warga pendatang kata Marjoko, juga jarang mau datang ke sarana kesehatan (posyandu, poskeskel dan puskesmas) untuk memeriksakan kesehatan balitanya secara teratur demi menciptakan keluarga sehat.
"Sampai dengan akhir tahun 2013 kasus balita dengan gizi kurang yang ditemukan di Kota Dumai sebanyak 107 kasus dari 34.596 balita yang ditimbang. Bila dipersentase balita dengan gizi kurang di Kota Dumai adalah sebesar 0,31 persen," jelasnya.
Kondisi ini, tambah Marjoko, menurun dibandingkan tahun 2012. Dimana persentase balita dengan gizi kurang sebesar 0,42 persen. Jelas menurutnya, semua itu sesuai konsep Visi Diskes Dumai yang memantapkan manajemen kesehatan yang dinamis dan akuntabel.
Mendorong pembangunan yang berwawasan kesehatan. Membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat melalui upaya promotif dan preventif. Pemerataan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau dan berkeadilan. Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan.***(adv/hum/fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar
-
Politik
DPRD Pekanbaru Desak Prioritas Drainase 2026

