• Home
  • Ekbis
  • Biomassa Riau Bakal Jadi Sumber Listrik Terbesar di Sumatra

Biomassa Riau Bakal Jadi Sumber Listrik Terbesar di Sumatra

Selasa, 29 April 2014 16:51 WIB

PEKANBARU - Gubernur Riau yang diwakili oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Drs. H. Zulher MS, menyatakan bahwa Riau bakal menjadi sumber lumbung bioenergi listrik terbesar se-sumatra. Bahkan diperkirakan dapat menjual energi listrik ke pulau jawa atau negara tetangga. 

Hal itu ditegaskannya pada saat pembukaan peluncuran Riau Research Energy Centre (RiREC) dan Biomass Energy Clearing House, Hotel Grand Central Pekanbaru, Selasa (29/4/14). 

Hadir pada acara tersebut Prof. DR. hm. Nazir Karim, Rektor UIN Suska, Agus Saptono, Deputi Direktur Bioenergi dan Energi Terbarukan Kemen ESDM, Indira Nurtanti, Pewakilan Kedutaan Finlandia, Nasrullah Salim, Koordinator EEP Indonesia, Kunaifi, Kepala Energy Research (Enreach) UIN Suska Riau dan tamu yang lainnya. 

Menurut Zulher hal itu didukung sumber bahan baku limbah cair dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Provinsi Riau yang luar biasa besarnya. Riau yang saat ini memiliki kebun kelapa sawit yaitu 2,3 juta hektar dari 8 juta hektar secara nasional. 

Dari 2,3 juta hektar lahan kelapa sawit tersebut akan diolah oleh 146 PKS dengan kapasitas total sebesar 6.137 ton TBS/jam yang akan menghasilkan produksi CPO 20,8 juta ton. 

Dari proses produksi TBS hingga 6.137 ton TBS/jam makan dapat dihasilkan listrik sekitar 906 MW dari serat dan cangkang dan sekitar 112 MW dari limbah cair (biogas). Jika ditotalkan keseluruhannya maka industri kelapa sawit di Riau dapat menghasilkan 1.018 MW. 

Angka-angka ini menunjukkan bukti betapa pentingnya kontribusi provinsi riau dalam pengembangan energi terbarukan nantinya. Untuk itu kata Zulher, bukan tidak mungkin nantinya Riau dapat menjadi penyumbang energi listrik terbesar di Sumatra. 

“Bandingkan kemampuan PLTA Koto Panjang yang hanya mampu memproduksi listrik sebesar 115 MW yang dapat mengaliri listrik di Riau dan Sumbar. Apalagi kalau sumber bahan baku dari industri kelapa sawit ini dapat menghasilkan 1.018 MW nantinya. Maka Riau dapat mengekspor listrik hingga ke luar negeri,”vpapar Zulher. 

Selain bisa menjadi sumber energy terbarukan, biomassa yang bersumber kepada limbah cair dan pada PKS ini selama ini turut menjadi penilaian dunia tentang industri perkelapasawitan di Indonesia tidak ramah lingkunangan. Tentu dengan dijadikan sebagai bahan baku industri energi terbarukan, maka dia mengharapkan issue ini dapat dihilangkan. 

“Dengan hilangnya issue yang tidak sedap tentang industri kelapa sawit yang tidak ramah lingkungan ke depannya, maka diharapkan harga CPO dan TBS bisa lebih tinggi,” harap Zulher. 

Untuk itu dia berharap, adanya RiREC dan Biomass Energy Clearing Housenya dapat menjadi pendorong kegiatan pengolahan industri energy dan energy terbarukan di Provinsi Riau yang ramah lingkungan. 

Kegiatan peluncuran RiREC dan Biomass Energy Clearing House itu sendiri berkat inisiasi Dinas Perkebunan Provinsi Riau, EEP Indonesia dan Kemenlu Finlandia dan juga Enreach UIN Suska. 

Pengembangan energy terbarukan berbahan bio massa di Riau. Negara Finlandia, menurutnya selama ini concern terhadap perubahan iklim dan perbaikan lingkungan. 

Sebagai bukti keikutsertaan mereka terhadap perbaikan lingkungan di Indonesia dan juga mengembangkan industri energi baru dan terbarukan maka maka Negara Finlandia menggelontorkan anggaran untuk penelitian dan pengembangan energy terbarukan hingga 4 juta poundsterling. 

Rektor UIN Suska, Prof. DR. HM Nazir menyatakan bahwa UIN Suska ingin berperan penting dalam issu perubahan iklim dan pengembangan energi baru dan terbarukan. 

“Selama ini, sektor ekonomi selalu menjadi panglima dalam kehidupan, sehingga sektor sosial dan lingkungan selalu terabaikan. Untuk itu UIN Suska Riau ingin berperan lebih dalam perbaikan lingkungan,”ucap Nazir.***(dok) 
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Ekbis
Komentar