• Home
  • Ekbis
  • Harga Anjlok, Petani Karet Kuantan Singingi Alih Profesi

Harga Anjlok, Petani Karet Kuantan Singingi Alih Profesi

Kamis, 28 Agustus 2014 19:05 WIB

TELUK KUANTAN - Setelah hampir setahun harga karet terus anjlok hingga mencapai harga kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram, berimbas terhadap perekonomian masyarakat, khususnya di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, dimana kalangan petani karet kebanyakan kini beralih profesi.

"Sekarang banyak kebun yang ditinggalkan pemiliknya alias tidak lagi disadap, karena harga karet murah, mereka lebih memilih jadi buruh bangunan dari pada menakik (menyadap)," ujar Buyung, salah seorang warga Seberang Taluk.

Bahkan menurut Buyung, biasanya ia bisa menjual karet ke pabrik 5 ton sampai 8 ton setiap minggunya, sekarang terpaksa 2 minggu sekali atau bahkan ada yang sebulan sekali karena tidak ada dapat karet dari petani akibat banyak petani yang tidak lagi menyadap karet.

"Entah kapan harganya akan naik, sekarang ada yang Rp6000 dan ada pula yang Rp7000 per kilogram. Harga ini sangat rendah dan melemahkan ekonomi rumah tangga," kata Bujang, salah seorang warga Pangean yang ditemui secara terpisah.

Disadari, dampak rendahnya harga karet ini berimbas terhadap pemenuhan kebutuhan di keluarga, seperti biaya pendidikan anak, dan kebutuhan keluarga lainnya. "Kondisi ini sudah berlangsung sangat lama, ntah sampai kapan harganya sesuai harapan," katanya.

Akibat murahnya harga karet di kalangan petani membuat sebagian petani memilih mencari penghasilan lain, seperti menjadi buruh bangunan, atau pekerjaan lainnya.

"Kalau menderes karet aja kita andalkan tak cukup memenuhi kebutuhan keluarga, terpaksa cari penghasilan lain," ujar Asman (35), salah seorang petani yang menjadi buruh bangunan di Logas Tanah Darat.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perkebunan Kuansing, H Wariman DW SP menyadari rendahnya harga karet di kalangan petani. Hal ini menurutnya, disebabkan pengaruh pasar global.

"Kalau dulu pennetu kebijakan harga karet itu ada beberapa negara, seperti Malaysia, Indonesia, Thailand. Tapi, kalau kini sudah banyak, tentu harga akan kompetitif. Itu dampaknya secara langsung keada harga karet petani," kata Wariman.

Diharapkan kondisi ini tidak berlangsung lama, sehingga petani kembali bisa menikmati harga karet yang bisa memenuhi kebutuhan perekonomian keluarga. "Mudah-mudahan harga karet kembali naik," harapnya.***(mcr-adi)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Ekbis
Komentar