• Home
  • Infotorial
  • Dinas PPPA Dumai : Keluarga Benteng Pertama Perlindungan Anak

Dinas PPPA Dumai : Keluarga Benteng Pertama Perlindungan Anak

Advertorial Kamis, 14 Maret 2019 11:05 WIB
DUMAI - Diperlukan kesadaran seluruh keluarga untuk memiliki pengasuhan yang berkualitas, berwawasan, keterampilan dan pemahaman yang komprehensif dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Mengapa? Karena keluarga merupakan awal mula pembentukan kematangan individu dan struktur kepribadian anak. 

Anak-anak akan mengikuti dan mencontoh orang tua dengan berbagai kebiasaan dan perilaku karena anak adalah kelompok makhluk yang rentan karena berusia kurang dari 18 tahun.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Dumai, Dameria, SKM, M.Si, kepada awak media.

"Baik buruknya keluarga akan menjadi cerminan bagi masa depan anak. Baik buruknya karakter/perilaku anak di masa datang sangat ditentukan oleh pola pengasuhan yang diberikan keluarganya dan lingkungan terdekatnya," ujar Dameria.

Hal itu, dikatakan Dameria, karena saat ini anak tidak hanya menjadi korban, namun tak jarang mereka juga sudah menjadi pelaku kejahatan. Kasus kekerasan, baik yang menjadikan anak sebagai korban maupun sebagai pelaku, perlu dikaji secara mendalam dan dicarikan solusi terbaiknya.

"Keluarga mempunyai peran untuk melindungi anak dengan memberikan pola asuh yang sesuai dengan prinsip yang digunakan dalam pembangunan anak, yang mengacu pada KHA (Konvensi Hak Anak) yaitu Non Diskriminasi; Kepentingan Terbaik bagi Anak; Hak Hidup, Kelangsungan Hidup, dan Perkembangan; dan Menghargai Pandangan Anak," ujarnya.

Ditegaskan Dameria, diharapkan semua pihak, terutama para keluarga, dapat mendukung dan berperan aktif dalam memenuhi hak anak dan memberikan perlindungan khusus bagi semua anak di Kota Dumai.

Disisi lain, Walikota Dumai Zulkifli AS, menyampaikan bahwa masa depan bangsa dan negara berada ditangan anak-anak. Perlindungan anak dimulai dari keluarga, maka dari itu perlu adanya kesadaran keluarga dalam menjaga dan mendidik anak.

"Gelorakan semangat mencintai keluarga, karena dari keluarga yang baik tercipta generasi yang baik bagi bangsa dan negara. Keluarga adalah benteng pertama dalam melindungi anak-anak," ujarnya.

Ia juga berharap seluruh orang tua bahwa kehidupan anak berawal dari pendidikan dasar dari keluarga. Maka dari itu, Pemerintah Kota Dumai melalui Dinas PPPA Kota Dumai terus berinovasi dalam menciptakan kegiatan positif. Agar anak terhindar dari pengaruh negatif.
"Kekerasan terhadap anak sangat kompleks, meliputi diri anak itu sendiri, keluarga, komunitas, dan sikap anti sosial. Maka dari itu kami terus berperan aktif dalam menyajikan beragam kegiatan bagi anak-anak," imbuhnya.

Sementara Wakil Ketua DPRD Dumai Idrus mengatakan, keluarga harus menjadi benteng utama perlindungan anak. Hal itu menjadi bagian dari cara agar tidak terjadi lagi kasus kekerasan yang melibatkan anak.

"Keluarga harus menjadi benteng utama dalam proses perlindungan anak. Pembinaan dalam keluarga merupakan penjagaan pertama anak-anak, sebelum ke masyarakat," ujar Idrus diruang kerjanya kepada media ini.

Idrus juga meminta agar para orang tua memberikan perhatian lebih pada anak serta mewaspadai dengan siapa anak bermain. "Termasuk mengawasi penggunaan media sosial, karena media sosial cukup kuat pengaruhnya," imbuh dia.

Dia menjelaskan anak-anak yang menjadi korban kekerasan harus menjalani terapi kejiwaan. "Bagi para orang tua, marilah kita jaga anak-anak kita , perhatikan mereka supaya tidak salah jalan. Anak adalah amanah Allah SWT yang harus kita jaga," harapnya.

Ditambahkan Idrus, apa pun situasi orang tua baik dalam situasi harmonis maupun dalam situasi terpisah dengan anak tetap harus diupayakan pengasuhan terbaik oleh orangtua. 

"Pengasuhan di dalam keluarga baik orang tua yang bersama maupun terpisah akan menjadi pondasi bagi karakter anak dan mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak. Dua pilar penting lainnya dalam pencegahan kekerasan adalah lingkungan dan sekolah," pungkasnya.

Pendidikan Keluarga

Pencegahan terjadinya kekerasan terhadap anak baik anak sebagai korban maupun pelaku diawali dari pendidikan keluarga. Keluarga adalah tempat anak pertama kali mendapatkan pengasuhan, pendidikan, dan perlindungan. 

Fakta Survei Nasional KPAI tahun 2015 lalu tentang Pengasuhan Berkualitas dengan angka 1 hingga 5 menunjukkan bahwa indeks ketahanan keluarga Indonesia masih perlu ditingkatkan kualitasnya.

Dalam hal persiapan pengetahuan pengasuhan pra nikah, indeksnya baru mencapai 3,53. Hal terjadi karena hanya kurang lebih 25% ayah dan 30% ibu yang mempersiapkan diri dengan pengetahuan pengasuhan sebelum memiliki anak.

Sedangkan prakteknya, 70% keluarga Indonesia mengulang pengasuhan yang mereka terima dulu. Pola asuh warisan tidak selamanya buruk tetapi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi saat ini. 

Indeks pola komunikasi masih dibawa angka 4 yaitu 3,84. Hal ini karena lebih dari 60% orang tua masih bertanya dengan pertanyaan tertutup serta bertanya urusan pemenuhan kebutuhan fisik dan akademik semata.

Sementara kebiasaan berkomunikasi yang baik tidak terbangun dan kehidupan sosial anak tidak menjadi perhatian orang tua. Begitu pula dengan indeks pengawasan media digital baru mencapai 3,45. Ada gap antara pengawasan yang dilakukan orang tua dan  praktek penggunaan media digital oleh anak.

Peranan orang tua untuk melakukan pencegahan kekerasan baru mencapai indeks 3,82 yang artinya orang tua  perlu melakukan upaya lebih optimal dalam pencegahan kekerasan. 

Dari penelitian tersebut terlihat jelas bahwa sesuai dengan Konvensi Hak Anak pasal 5, negara perlu memampukan orang tua agar cakap mengasuh anak.

Selama ini ada banyak program yang dilakukan pemerintah terkait pengasuhan. Namun masih banyak yang tumpang tindih dan belum menyentuh sampai akar rumput bagaimana memampukan orang tua mengasuh anak. 

Hadirnya Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) oleh KPPA harus terus diupayakan. Pengasuhan dalam keluarga akan sangat berpengaruh pada karakter anak.

Penanggung jawab utama pengasuhan adalah orang tua. Namun faktanya pengasuhan anak dapat terjadi di keluarga inti, keluarga besar, institusi, adopsi, hingga tidak ada pengasuh atau terlantar. 

Siapapun pengasuh anak, utamanya orang tua, harus disiapkan pengasuh yang memiliki kemampuan komunikasi dan pengasuhan yang baik, memberikan edukasi agar anak tidak menjadi korban maupun pelaku kekerasan, mendidik menggunakan media digital dengan bijak, hingga melakukan pengawasan terhadap anak yang dialogis.

Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Dumai.

(Advertorial)
Tags DPPPA DumaiPemko DumaiWalikota-DumaiWalikota Dumai
Komentar