- Home
- Lingkungan
- Penanganan Abrasi, Pemprov Riau Dinilai Belum Peduli
Penanganan Abrasi, Pemprov Riau Dinilai Belum Peduli
Senin, 02 Desember 2013 18:39 WIB
SELATPANJANG - Pemerintah Riau dinilai belum peduli terhadap penanganan abrasi yang berada di kawsasan Pesisir Selat Malaka. Sejumlah pulau terluar di wilayah kabupaten Kepulauan Meranti terus menerus diterjang abrasi.
Hal ini dikarenakan kuatnya hempasan gelombang Selat Malaka, seperti yang menghantam bibir tebing daratan Pulau Rangsang dan Pulau Merbau, menyebabkan kedua buah pulau terluar milik Meranti ini kini terus menyusut.
Seperti Pulau Rangsang merupakan daerah yang paling parah dihantam abrasi. Puluhan kilometer daratan pulau Rangsang kini terjun ke laut, diterang abarasi. Sayangnya, kondisi ini luput dari pantauan Pemerintah Riau.
Meskipun Pemkab Kepulauan Meranti telah berupaya melakukan upaya penanggulangan, sampai hari ini pihak Pemerintah Riau belum melakukan apapun program nyata dalam menanggulangai abrasi di Meranti.
Menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kepulauan Meranti Ir Makmun Murod, terkait makin meluasnya sebaran abrasi di Pulau Rangsasng, Pulau Padang dan Pulau Merbau kondisinya sangat memprihatinkan.
“Mengatasi persolaan abrasi, merupakan tanggung jawab pemerintah. Dan itu tidak bisa dibebankan hanya pada Pemkab Kepulauan Meranti. Harus ada sinergi bersama antara Pemkab Mernanti, Pemprop Riau dan Pemerintah Pusat.Namun saying, hingga hari ini belum ada kepedulian dari Pemerintah Riau dalam upaya penanggulangan abrasi di Meranti” ujar Murod, kemarin.
Dikatakan Murod, upaya penaggulangan abarsi di Pulau Rangsang terus dilakukan. Pemerintah Pusat dalam upaya menanggulangai abrasi di Pulau Rangsang pada tahun 2013 ini, telah merehabilitasi sedkitinya 600 hektar kawasan pantai desa Tanjung Bakau Kecamatan Rangsang.
Selain itu, Pemerintah Pusat melalui telah membentuk kelomok pengelola Kebun Bibit Rakyat (KBR), untuk melakukan penanaman dan pemeliharaan hutan bakau sebagai upaya untuk menahan laju abrasi yang terjadi. Ribuan bibit mangrove melalui KBR ini telah ditanam di sepanjang kawasan bibir pantai desa Tanjung Bakau.
Diharpakan upaya ini, selain menahan laju abrasi, bibit mangrove yang tumbuh bisa menjadi ekosistem baru bagi biota pantai. Dengan demikian, estuaria pantai yang dulunya nyaris punah, dapat kembali subur menjadi penyuplai rantai maknan bagi biota-biota pelagis di pantai.
"Dana yang dikucurkan 4 Miliar satu tahun, pembangunan Kebun Bibit Rakyat (KBR) ini merupakan salah satu program prioritas pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kehutanan yang telah dilaksanakan sejak tahun 2010," bebernya.
"Salah satu tujuannya adalah untuk mencegah, menanggulangi bencana, penyedia Oksigen (O2), penyerap racun udara terkontaminasi, dan secara tidak langsung akan mempengaruhi terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.Peran serta penduduk lokal dan masyarakat sekitar pantai juga sangat di harapkan untuk mengatasi masalah abrasi pantai di Meranti ini," beber Murod.
Dikatakannya lagi, abrasi yang menghantam Pulau Rangsang sudah sangat parah dan mencemaskan. Abrasi tidak hanya meruntuhkan bibir tebing kawasan pantai Pulau Rangsang. Dibebrapa titik sebaran abarsi, telah meruntuhkan areal perkebuna kelapa dan kawasan perumahan warga.
Meskipun tidak sampai menimbulkan korban jiwa, kalau hal ini dibiarkan terus menerus tanpa upaya penanggulangan dihawatirkan akan menggerus luas daratan pulau terluar tersebut. Terutama untuk kawasan Timur Pulau Rangsang.
Disepanjang pantai Timur Pulau Rangsang, sebaran abrasi semakin luas menjorok kearah daratan. Demikian juga dengan kawaas ujung Barat Pulau Ransang, mulai dari Tg. Motong, Desa Bantar dan desa Anak Setatah. Luas sebaran abrasi di tiga daerah ini, juga terus menjorok ke laut.
“Untuik di perbatasan desa Bantar-Anak Setatah, jarak antara sisi utara dan selatan tinggal 2 kilo meter lagi. Akibat abrasi yang terus menerus terjadi, daratan pulau Ransang di titik ini membentuk lekukan seperti leher angsa. Kita mencemaskan kondisi ini, kalau tidak segera di tanggulangi, kita hawatir bagian ujung barat pulau terluar ini bisa terputus, ” tandas Murod lagi. (Sawal/hkc)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar
-
Politik
DPRD Pekanbaru Desak Prioritas Drainase 2026

