Belum Terima Surat Resmi dari Kemendag RI
Disperidag Dumai Belum Bisa Bertindak Soal Pakaian Bekas Impor
Jumat, 06 Februari 2015 17:51 WIB
DUMAI - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Dumai Zulkarnaen, mengaku belum menerima surat resmi larang baju bekas impor yang diperjual belikan pedagang dari Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
"Mau tidak mau, kita harus menunggu surat resmi. Apalagi aturan ini baru didengar melalui media tapi surat belum ada ya kami sendiri belum ada melakukan tindakan sejauh ini," ungkapnya kepada sejumlah wartawan, Jumat (6/2/15).
Kemudian dalam masalah ini, lanjut Zukarnaen, sejauh belum menerima surat resmi dari Kemendag RI soal larangan baju bekas impor yang dikabarkan ada bakteri berbahaya, Pemko hanya bisa menghimbau kepada masyarakat menjadi konsumen yang pintar dan jeli dalam membeli pakaian bekas.
"Paling tidak Pemerintah Kota Dumai hanya bisa menghimbau kepada masyarakat agar menjadi konsumen yang pintar dan jeli. Dan lagi pula, jika memang tidak boleh kenapa barang ini bisa masuk ke Dumai dan tidak ditangkap aparat terkait," pungkasnya.
Sebagai data tambahan, sebuah pasar khusus penyedia pakaian bekas impor yang rata-rata berasal dari negara Malaysia saat ini terdapat di Kota Dumai. Namanya adalah Pasar Senggol yang merupakan salah satu pasar penyedia pakaian bekas.
Selasa (3/2/15) siang terpantau padat pengunjung mulai dari kalangan remaja hingga dewasa. Sejumlah pelanggan pakaian bekas ini mengaku meminati ragam jenis pakaian karena terkesan elit dan modern serta berkualitas tinggi.
"Harganya juga cenderung lebih murah ketimbang pakaian beli toko," kata Muhammad Nizar, seorang pembeli yang ditemui di sela aktivitasnya memilih pakaian di lantai dua Pasar Senggol Dumai tersebut kepada riauheadline.com.
Pria ini mengungkapkan dirinya selalu mendatangi pasar itu nyaris setiap dua minggu sekali. "Entah kenapa, kalau sudah beli pakaian di sini (Pasar Senggol) kok jadi ketagihan, mungkin karena disini merknya berkualitas kali," kata dia.
Dilain pihak, seorang pedagang pakaian di Pasar Senggol, Boru Siahaan (43) mengaku, pakaian bekas yang dipajangnya, yakni mulai dari celana jeans, kemeja, kaos oblong, dasi, gorden, jendela, alas meja, kaos kaki, bahkan celana dalam hingga bra didapat dari sejumlah importir di Dumai.
Pakaian bekas berbagai jenis itu ditawarkannya dengan harga bervariasi, tergantung model dan kondisi fisik pakaian tersebut. "Kalau modelnya bagus atau terbaru dan dalam kondisi baik harganya mencapai Rp40 ribu-100 ribu perpotong," katanya.
Sementara jika kondisi pakaian yang ditawar pembeli mengalami cacat seperti terkotori bercak tinta atau cairan yang tidak dapat hilang dengan mudah, maka akan mempengaruhi harganya, sekali pun modelnya bagus atau terbaru.
"Kalau yang cacat, paling kita jual seharga Rp5.000 sampai Rp30.000. Tapi kalau gorden jendela sama alas meja harganya di atas Rp40 ribu, bahkan kalau yang kualitasnya bagus harganya mau jutaan," ujarnya.
Pedagang lainnya di pasar yang sama, Simanjuntak (51), mengatakan, sejak dua minggu terakhir atau seminggu sebelum hingga seminggu memasuki bulan Ramadhan 1432 Hijriah tahun ini jual-beli dirasa semakin meningkat.
"Kalau biasanya pakaian yang laku paling banyak 10 sampai 20 helai, sejak dua minggu ini meningkat jadi 30 helai. Bahkan pada hari Sabtu atau Minggu mau sampai 50 helai pakaian yang laku terjual," kata ibu tiga anak dan dua cucu ini.
(adi/adi)
"Mau tidak mau, kita harus menunggu surat resmi. Apalagi aturan ini baru didengar melalui media tapi surat belum ada ya kami sendiri belum ada melakukan tindakan sejauh ini," ungkapnya kepada sejumlah wartawan, Jumat (6/2/15).
Kemudian dalam masalah ini, lanjut Zukarnaen, sejauh belum menerima surat resmi dari Kemendag RI soal larangan baju bekas impor yang dikabarkan ada bakteri berbahaya, Pemko hanya bisa menghimbau kepada masyarakat menjadi konsumen yang pintar dan jeli dalam membeli pakaian bekas.
"Paling tidak Pemerintah Kota Dumai hanya bisa menghimbau kepada masyarakat agar menjadi konsumen yang pintar dan jeli. Dan lagi pula, jika memang tidak boleh kenapa barang ini bisa masuk ke Dumai dan tidak ditangkap aparat terkait," pungkasnya.
Sebagai data tambahan, sebuah pasar khusus penyedia pakaian bekas impor yang rata-rata berasal dari negara Malaysia saat ini terdapat di Kota Dumai. Namanya adalah Pasar Senggol yang merupakan salah satu pasar penyedia pakaian bekas.
Selasa (3/2/15) siang terpantau padat pengunjung mulai dari kalangan remaja hingga dewasa. Sejumlah pelanggan pakaian bekas ini mengaku meminati ragam jenis pakaian karena terkesan elit dan modern serta berkualitas tinggi.
"Harganya juga cenderung lebih murah ketimbang pakaian beli toko," kata Muhammad Nizar, seorang pembeli yang ditemui di sela aktivitasnya memilih pakaian di lantai dua Pasar Senggol Dumai tersebut kepada riauheadline.com.
Pria ini mengungkapkan dirinya selalu mendatangi pasar itu nyaris setiap dua minggu sekali. "Entah kenapa, kalau sudah beli pakaian di sini (Pasar Senggol) kok jadi ketagihan, mungkin karena disini merknya berkualitas kali," kata dia.
Dilain pihak, seorang pedagang pakaian di Pasar Senggol, Boru Siahaan (43) mengaku, pakaian bekas yang dipajangnya, yakni mulai dari celana jeans, kemeja, kaos oblong, dasi, gorden, jendela, alas meja, kaos kaki, bahkan celana dalam hingga bra didapat dari sejumlah importir di Dumai.
Pakaian bekas berbagai jenis itu ditawarkannya dengan harga bervariasi, tergantung model dan kondisi fisik pakaian tersebut. "Kalau modelnya bagus atau terbaru dan dalam kondisi baik harganya mencapai Rp40 ribu-100 ribu perpotong," katanya.
Sementara jika kondisi pakaian yang ditawar pembeli mengalami cacat seperti terkotori bercak tinta atau cairan yang tidak dapat hilang dengan mudah, maka akan mempengaruhi harganya, sekali pun modelnya bagus atau terbaru.
"Kalau yang cacat, paling kita jual seharga Rp5.000 sampai Rp30.000. Tapi kalau gorden jendela sama alas meja harganya di atas Rp40 ribu, bahkan kalau yang kualitasnya bagus harganya mau jutaan," ujarnya.
Pedagang lainnya di pasar yang sama, Simanjuntak (51), mengatakan, sejak dua minggu terakhir atau seminggu sebelum hingga seminggu memasuki bulan Ramadhan 1432 Hijriah tahun ini jual-beli dirasa semakin meningkat.
"Kalau biasanya pakaian yang laku paling banyak 10 sampai 20 helai, sejak dua minggu ini meningkat jadi 30 helai. Bahkan pada hari Sabtu atau Minggu mau sampai 50 helai pakaian yang laku terjual," kata ibu tiga anak dan dua cucu ini.
(adi/adi)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Ekbis
Pemkab Siak Targetkan PAD Retribusi Menara Rp700 Juta
-
Ekbis
Awasi BUMD, Pemprov Riau Usulkan Perda Tata Kelola
-
Ekbis
Sepekan Transaksi Jual Beli Perhiasan Melemah di Dumai
-
Ekbis
Pemkab Bengkalis Sambut Baik Program Prisma Chevron
-
Ekbis
AHM Ajak Konsumen Saksikan MotoGP 2015
-
Ekbis
Dana Pembangunan Siak Dipotong Hingga Rp300 Miliar Lebih

